Menikmati Pisang Owol Solo: Kuliner Legendaris Pak Kemin

  • 08 Jun 2026 11:26 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID,Surakarta - Kota Solo tak pernah kehabisan cerita tentang kuliner tradisionalnya. Di tengah gempuran tren makanan kekinian yang datang dan pergi, jajanan klasik tetap memiliki tempat spesial di hati masyarakat. Salah satu kuliner legendaris yang wajib dicoba saat berkunjung ke Solo adalah Pisang Owol.

Bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, menyantap pisang owol hangat di malam hari bukan sekadar mengisi perut, melainkan merayakan kesederhanaan rasa yang autentik.Nama "owol" berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi pisang yang dikoyak, dicabik, atau disajikan secara tidak beraturan setelah proses pembakaran. Kuliner ini menggunakan bahan dasar pisang kluthuk atau pisang kepok yang sudah matang sempurna.

Dalam proses pembuatannya terbilang sederhana namun membutuhkan keahlian. Pisang dikupas lalu dibakar di atas arang briket hingga mengeluarkan aroma karamel yang khas.Setelah matang dan sedikit gosong eksotis, pisang ditekan (digeprek) atau disobek-sobek kasar (di-owol),dan terahir menyiramnya dengan kuah santan kental yang gurih, menciptakan sensasi rasa tradisional yang sulit dilupakan.

Untuk memahami bagaimana kuliner sederhana ini bisa bertahan melintasi generasi, kita bisa mengambil insight berharga dari Pak Kemin, salah satu penjual pisang owol yang cukup dikenal di Solo. Dari segelas wedang dan sepiring pisang owol hangat, ada beberapa pelajaran bisnis dan filosofi hidup yang bisa dipetik.

Menurut Pak Kemin Senin (8 Juni 2026) , rahasia kelezatan pisang owol tidak terletak pada modifikasi yang aneh-aneh, melainkan pada pemilihan jenis pisang. Beliau sangat selektif dalam memilih pisang kepok yang tingkat kematangannya pas tidak terlalu mentah (karena akan sepet) dan tidak terlalu lembek. Konsistensi dalam menjaga kualitas bahan baku inilah yang membuat pelanggan setianya terus kembali.

Di era modern di mana panggangan gas atau teflon lebih praktis, Pak Kemin tetap setia menggunakan arang bambu atau arang kayu. Menurutnya, aroma smoky (asap) yang menempel pada pisang tidak bisa digantikan oleh alat modern. Keaslian proses inilah yang menjadi nilai tersendiri yang dicari oleh para pemburu kuliner nostalgia.

Meski mempertahankan cara lama, Pak Kemin juga jeli melihat pasar. Selain mempertahankan menu original (santan dan gula murni), beliau juga mulai menyediakan topping modern seperti taburan keju parut, cokelat meises, atau susu kental manis. Langkah ini terbukti ampuh menarik minat generasi muda (Gen Z dan Milenial) di Solo yang suka nongkrong malam hari.

Satu hal yang membuat warung Pak Kemin selalu ramai bukan hanya makanannya, melainkan atmosfernya. Pak Kemin selalu menyapa pelanggan dengan ramah, mengingat pesanan langganan lama, dan sesekali melempar candaan khas Solo yang adhem. BagiPak Kemin, berjualan bukan sekadar transaksi dagang, tapi juga menyambung silaturahmi.(Aditya Wardhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....