Harmoni Manis di Balik Kue Keranjang: Wajah Imlek 2026 di Kota Solo

  • 18 Feb 2026 12:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kota Solo kembali bersolek dengan ribuan lampion merah yang memantul di permukaan Sungai Pepe. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, ada aroma manis yang konsisten menyeruak dari dapur-dapur di kawasan Sudiroprajan.

Kue Keranjang (Nian Gao), kudapan legit nan lengket, tetap menjadi primadona yang menjembatani doa spiritual dan relasi sosial warga Solo. Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang bukan sekadar pencuci mulut.

Teksturnya yang kenyal dan lengket melambangkan kegigihan serta persaudaraan yang erat. Bentuknya yang bulat melambangkan tekad bulat dan keluarga yang bersatu tanpa putus. Di Kota Bengawan, perayaan ini menjadi istimewa karena adanya Grebeg Sudiro.

Di sini, kue keranjang tidak hanya berdiam di atas meja sembahyang. Tetapi diarak dalam bentuk gunungan raksasa dan dibagikan secara gratis kepada ribuan warga dari berbagai latar belakang etnis.

Untuk memahami makna mendalam dari penganan ini, kami berbincang dengan Ibu Ratna (58), seorang perajin kue keranjang rumahan di kawasan Jebres, Solo yang telah meneruskan usaha keluarganya selama tiga generasi. Ia menjelaskan bahwa pembuatan kue keranjang di Solo masih mempertahankan cara tradisional demi menjaga kualitas rasa.

"Membuat kue keranjang itu butuh waktu belasan jam dikukus. Kalau apinya tidak stabil atau suasana hati yang masak sedang tidak tenang, warnanya bisa pucat. Ini adalah latihan kesabaran sebelum memulai tahun yang baru," ujarnya kepada rri.co,id, Senin, 16 Februari 2026.

Menurutnya ada fenomena unik yang hanya ia temukan di Solo. Pelanggannya justru didominasi oleh warga non-Tionghoa yang memesan kue keranjang untuk hantaran atau sekadar camilan sore.

"Di Solo, kue keranjang itu sudah jadi milik semua orang. Banyak pelanggan saya yang memesan untuk dimakan pakai parutan kelapa seperti makan cenil atau getuk. Inilah indahnya Solo, makanan kami sudah saling bercampur resepnya," ujarnya.

Pada perayaan Imlek 2026 ini, Ibu Ratna mencatat adanya pergeseran tren pada kemasan. Jika dulu kue keranjang hanya dibungkus plastik bening sederhana, kini kemasan ramah lingkungan (besek bambu) dengan ornamen batik khas Solo mulai diminati.

"Konsumen sekarang cari yang estetik untuk dikirim ke teman-teman di luar kota. Jadi, isi tetap tradisi, tapi bungkusnya harus mencerminkan identitas Solo," katanya. (Aditya Wardhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....