Tidur, Makan, atau Olahraga: Mana yang Lebih Utama?

  • 22 Sep 2026 05:58 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta : Menjaga kesehatan sering kali terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu semudah itu. Di tengah kesibukan sehari-hari, kita mungkin harus memilih antara tidur lebih awal, menyiapkan makanan sehat, atau menyempatkan diri untuk berolahraga. Lalu, jika hanya bisa memperbaiki satu kebiasaan terlebih dahulu, mana yang sebaiknya diprioritaskan? Secara sederhana, tidur dapat menjadi fondasi, pola makan menjadi sumber tenaga, dan olahraga menjadi cara untuk menjaga tubuh tetap aktif. Ketiganya tetap penting, tetapi membangun kebiasaan secara bertahap bisa membuat gaya hidup sehat terasa lebih mudah dijalani.

Tidur bisa menjadi langkah pertama karena tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur per malam, sementara sumber Kemenkes lainnya merekomendasikan 7–8 jam bagi orang dewasa. Tidur yang cukup bukan hanya membuat tubuh terasa lebih segar, tetapi juga berkaitan dengan konsentrasi, suasana hati, dan proses pemulihan tubuh. Sebaliknya, kebiasaan kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan, termasuk meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, dan obesitas. Karena itu, sebelum memikirkan olahraga yang berat atau diet yang ketat, tidak ada salahnya mulai dengan membiasakan diri tidur dan bangun pada waktu yang lebih teratur.

Setelah tidur mulai tertata, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah makanan yang kita konsumsi setiap hari. Makan sehat bukan berarti harus menghilangkan nasi, tidak boleh makan enak, atau mengikuti diet yang sedang populer di media sosial. Prinsipnya lebih sederhana, yaitu memenuhi kebutuhan tubuh dengan makanan yang beragam dan bergizi seimbang, termasuk memperbanyak sayur dan buah. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa masyarakat dianjurkan mengonsumsi 400–600 gram sayur dan buah per hari untuk remaja dan orang dewasa, dengan porsi sayur lebih banyak daripada buah. Jadi, perubahan kecil seperti menambahkan sayuran ke dalam menu makan, memilih buah sebagai camilan, dan mengurangi makanan atau minuman tinggi gula bisa menjadi awal yang lebih realistis daripada memaksakan perubahan besar sekaligus.

Berikutnya adalah olahraga, atau lebih tepatnya aktivitas fisik, yang sering kali kalah oleh alasan sibuk dan tidak punya waktu. Padahal, aktivitas fisik tidak selalu harus dilakukan di gym atau membutuhkan peralatan khusus karena berjalan kaki, bersepeda, menari, naik tangga, hingga melakukan pekerjaan rumah juga termasuk aktivitas yang membuat tubuh bergerak. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang dalam seminggu, atau sekitar 30 menit selama lima hari. Angka tersebut mungkin terlihat banyak, tetapi sebenarnya bisa dibagi menjadi beberapa sesi agar lebih mudah masuk ke rutinitas harian. Jika belum terbiasa, tidak perlu langsung memaksakan diri karena memulai dari jalan kaki selama 15–20 menit dan meningkatkan durasinya secara perlahan juga merupakan langkah yang baik.

Menariknya, tidur, makanan, dan olahraga sebenarnya saling berhubungan sehingga sulit mengatakan bahwa salah satunya sama sekali tidak penting. Kurang tidur, misalnya, dapat membuat tubuh terasa lelah sehingga keinginan untuk bergerak dan berolahraga ikut menurun. Begitu juga dengan pola makan yang kurang baik, yang dapat membuat tubuh tidak mendapatkan energi dan zat gizi yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Di sisi lain, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin juga dapat membantu menjaga kebugaran dan menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehat. Jadi, jika harus menentukan urutan, tidur bisa dijadikan fondasi terlebih dahulu, kemudian pola makan, lalu olahraga, tetapi tujuan akhirnya tetap menjaga ketiganya berjalan bersama.

Pada akhirnya, hidup sehat tidak harus dimulai dengan perubahan besar yang membuat kita cepat menyerah. Cobalah mulai dari hal yang paling sederhana, seperti tidur lebih teratur, menambahkan sayur dan buah ke dalam menu harian, lalu menyempatkan waktu untuk berjalan kaki atau melakukan aktivitas fisik lainnya. Data Kementerian Kesehatan dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 37,4% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun masih kurang melakukan aktivitas fisik, dengan alasan paling banyak adalah tidak memiliki waktu. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan hidup sehat bukan selalu soal tidak tahu caranya, tetapi juga bagaimana menjadikannya bagian dari rutinitas yang realistis. Tidur untuk memulihkan tubuh, makan untuk memberikan energi, dan bergerak untuk menjaga kebugaran—ketika dilakukan secara konsisten, ketiganya dapat menjadi investasi sederhana untuk kesehatan di masa depan. (Rosita)

Sumber: Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Ayo Sehat Kemenkes, dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (Survei Kesehatan Indonesia 2023).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....