Indonesia Masuk 10 Besar Negara Paling Bugar

  • 23 Agt 2026 15:16 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Indonesia berhasil menempati posisi sepuluh besar negara paling bugar di dunia berdasarkan rilis data kesehatan internasional terbaru. Prestasi membanggakan ini diraih berkat angka prevalensi obesitas dewasa di tanah air yang tergolong sangat rendah.

Mengutip data Seasia Stats dari World Obesity Atlas 2025, Indonesia berada di peringkat ke-6 dunia dengan prevalensi obesitas sebesar 11,52 persen. Posisi Indonesia berada tepat di bawah Taiwan yang mencatatkan angka prevalensi sebesar 11,27 persen.

Puncak daftar negara bugar ini diduduki oleh Jepang dengan angka prevalensi obesitas terendah, yaitu 5,57 persen. Posisi berikutnya disusul oleh Korea Selatan dengan 7,24 persen, China sebesar 8,37 persen, serta Prancis di angka 10 persen.

Rendahnya tingkat obesitas di Jepang dan Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh pola makan tradisional yang kaya akan sayuran, ikan, serta makanan fermentasi. Selain itu, kebiasaan berjalan kaki dan penggunaan transportasi publik membuat aktivitas fisik menjadi bagian dari rutinitas harian warga di negara-negara tersebut.

Masuknya Indonesia ke dalam jajaran sepuluh besar ini menjadi fenomena menarik di tengah cepatnya arus urbanisasi dan modernisasi. Mayoritas masyarakat Indonesia terbukti masih mampu mempertahankan kebiasaan hidup sehat serta rutinitas harian yang menjaga tubuh tetap aktif.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa aktivitas harian masyarakat mampu mencegah risiko penumpukan lemak berlebihan dan membendung dampak buruk gaya hidup minim gerak. Capaian ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi kondisi kesehatan masyarakat di tingkat global.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa angka prevalensi obesitas dewasa hanyalah salah satu indikator pendukung. Tingkat obesitas yang rendah tidak serta-merta mencerminkan bahwa seluruh populasi memiliki kebugaran fisik yang tinggi secara menyeluruh.

Kebugaran fisik seseorang masih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kualitas tidur, pola makan, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal. Oleh karena itu, data pemeringkatan ini sebaiknya dipahami sebagai salah satu acuan gambaran kesehatan masyarakat, bukan sebagai ukuran tunggal. ( Ria )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....