Waspada Makanan Ultra Proses, Diam-Diam Berbahaya

  • 31 Jul 2026 14:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Makanan ultra proses (ultra-processed food/UPF) semakin mudah ditemukan di tengah gaya hidup serba praktis. Produk seperti mi instan, minuman berpemanis, sosis, nugget, camilan kemasan, hingga makanan siap saji memang menawarkan kecepatan penyajian. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.

Penelitian Asih Setiarini berjudul The Difference of Ultra-Processed Food Consumption Based on Individual Characteristics and Other Factors among Non-Health Undergraduate Students in Universitas Indonesia in 2023 yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Public Health Nutrition (2023) menunjukkan lebih dari separuh responden memiliki tingkat konsumsi makanan ultra proses yang tinggi.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa pola konsumsi UPF berkaitan dengan meningkatnya risiko kelebihan berat badan dan obesitas ( Sumber: Universitas Indonesia, diakses 30 Juli 2026). Temuan serupa disampaikan Nurul Hidayah, Nurhalisa, Salma Alfina Putri Nada, dan Azrina Sufi Nasution dalam penelitian Ultra Processed Foods dan Implikasinya terhadap Kesehatan dan Lingkungan: A Literature Review yang dimuat pada Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia (2025).

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa makanan ultra proses umumnya mengandung gula, garam, lemak, serta bahan tambahan pangan dalam jumlah tinggi, tetapi rendah serat dan zat gizi penting. (Sumber: Universitas Hasanuddin, diakses 30 Juli 2026). Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak karena berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Melalui panduan Isi Piringku, Kemenkes menganjurkan memperbanyak konsumsi sayur, buah, protein, dan makanan segar sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang. Informasi tersebut dimuat pada laman resmi Kementerian Kesehatan RI "Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak" (31 Januari 2024) dan "Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian" (28 Juni 2024), diakses 30 Juli 2026).

Membaca label gizi sebelum membeli produk, membatasi makanan kemasan menjadi hal baik. Memilih bahan pangan segar juga merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan.

Pola makan sehat bukan berarti menghindari seluruh makanan olahan, melainkan mengendalikan frekuensi dan porsinya agar tubuh tetap memperoleh asupan gizi yang seimbang. (Arifin)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....