Fakta dan Mitos tentang Minum Kopi

  • 31 Mei 2026 11:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID., Surakarta - Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Dari warung sederhana hingga kafe modern, minuman berkafein ini hampir selalu hadir dalam berbagai aktivitas harian. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak mitos yang beredar mengenai dampak kopi terhadap kesehatan.

Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah anggapan bahwa minum kopi pasti menyebabkan gangguan tidur. Faktanya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efek kopi terhadap tidur tidak selalu sama pada setiap orang.

Faktor seperti jumlah konsumsi, waktu minum, hingga kondisi fisik individu turut memengaruhi hasilnya. Penelitian yang dilakukan Adil Sidik, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Trini Sudiarti, dan Khoirul Anwar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam jurnal Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat tahun 2024 menemukan bahwa konsumsi kopi tidak memiliki hubungan signifikan dengan kualitas tidur mahasiswa.

Penelitian tersebut justru menunjukkan bahwa faktor seperti tingkat kecemasan, kelelahan, dan kebersihan pola tidur lebih berpengaruh terhadap kualitas istirahat seseorang. Mitos lainnya menyebutkan bahwa kopi hanya memberikan dampak buruk bagi tubuh.

Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kopi juga mengandung berbagai senyawa bermanfaat. Kandungan kafein, polifenol, dan asam klorogenat diketahui memiliki peran dalam meningkatkan kewaspadaan dan membantu metabolisme tubuh.

Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Arief Mukti Mindiroeseno dan Ratna Kusuma Astuti yang diterbitkan dalam Blantika: Multidisciplinary Journal tahun 2023. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kopi mengandung lebih dari seribu senyawa fitokimia yang berpotensi mendukung kesehatan serta membantu menurunkan risiko beberapa penyakit kronis.

Di sisi lain, ada pula anggapan bahwa semua orang akan mengalami jantung berdebar setelah minum kopi. Faktanya, respons tubuh terhadap kafein berbeda-beda. Sebagian orang memang lebih sensitif terhadap kafein, sementara yang lain dapat mengonsumsinya tanpa mengalami efek yang berarti.

Penelitian Febriana Ira Dewi, Faisal Anwar, dan Leily Amalia dari Institut Pertanian Bogor yang dimuat dalam Jurnal Gizi dan Pangan tahun 2009 menemukan bahwa mahasiswa memiliki persepsi beragam setelah mengonsumsi kopi. Sebagian merasa lebih segar dan mudah berkonsentrasi, sementara sebagian lainnya mengalami sulit tidur atau efek fisik tertentu.

Pada akhirnya, kopi bukanlah minuman yang sepenuhnya buruk maupun sepenuhnya baik. Kunci utamanya terletak pada pola konsumsi yang bijak dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing. Selama dikonsumsi dalam batas wajar, secangkir kopi dapat menjadi teman aktivitas tanpa harus dibayangi berbagai mitos yang belum tentu benar. (Arifin)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....