Bahaya Pijat Urut saat Mengalami Patah Tulang
- 28 Mei 2026 11:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Di Indonesia, masih banyak masyarakat yang memilih pijat urut atau sangkal putung sebagai penanganan pertama saat mengalami patah tulang. Alasannya beragam, mulai dari faktor biaya, kebiasaan turun-temurun, hingga anggapan bahwa tulang dapat kembali normal tanpa operasi. Padahal, tindakan pijat pada area patah tulang justru dapat memperparah cedera dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Patah tulang atau fraktur adalah kondisi ketika struktur tulang mengalami retak atau putus akibat benturan keras, kecelakaan, atau jatuh. Pada kondisi ini, tulang memerlukan penanganan medis yang tepat agar posisi tulang dapat kembali sesuai dan menyatu dengan baik. Menurut penelitian dalam The Journal of Palembang Nursing Studies (2022) mengenai pengalaman pasien fraktur yang menjalani terapi pijat tradisional karena faktor budaya dan kepercayaan masyarakat terhadap metode turun-temurun.
Namun, pijat urut pada tulang yang patah dapat menimbulkan berbagai bahaya. Salah satu risiko utama adalah pergeseran tulang yang semakin parah.
| Baca juga: Bahaya Mengkuncir Rambut pada Anak-Anak |
Tulang yang semula hanya retak dapat berubah posisi akibat tekanan pijatan yang terlalu kuat. Akibatnya, proses penyambungan tulang menjadi lebih sulit dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
Selain itu, pijatan pada area fraktur juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan di sekitar tulang. Otot, pembuluh darah, dan saraf yang berada di dekat lokasi cedera bisa mengalami tekanan berlebihan. Jika saraf ikut terluka, penderita dapat mengalami mati rasa, kesemutan, bahkan gangguan gerak permanen pada bagian tubuh tertentu.
Bahaya lain yang sering terjadi adalah pembengkakan dan perdarahan yang semakin berat. Saat tulang patah dipijat, pembuluh darah yang sudah cedera dapat robek lebih luas sehingga memicu memar dan nyeri hebat. Kondisi ini membuat pemulihan menjadi lebih lama dibandingkan jika pasien langsung mendapatkan penanganan medis seperti pemasangan bidai atau gips.
Penanganan yang terlambat akibat terlalu lama menjalani pijat tradisional juga dapat meningkatkan risiko cacat permanen. Tulang yang menyambung dalam posisi tidak tepat dapat menyebabkan bentuk anggota tubuh menjadi bengkok atau panjang sebelah. Dalam beberapa kasus berat, pasien bahkan harus menjalani operasi koreksi tulang karena kesalahan penanganan awal.
Meski demikian, pijat masih dapat dimanfaatkan dalam dunia medis, tetapi bukan pada fase awal patah tulang. Terapi pijat biasanya dilakukan setelah operasi atau saat proses rehabilitasi untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot. Artinya, pijat hanya aman dilakukan dalam pengawasan tenaga kesehatan dan pada kondisi tertentu, bukan untuk membetulkan tulang yang baru patah.
Karena itu, langkah paling aman saat mengalami patah tulang adalah segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan rontgen untuk menentukan jenis fraktur serta tindakan yang dibutuhkan. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah kecacatan jangka panjang. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....