Kasus DBD Karanganyar Turun Signifikan, Pekan ke-15 Tercatat 83 Kasus

  • 29 Apr 2026 17:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mencatat penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang cukup signifikan hingga minggu ke-15 di tahun 2026. Hingga periode pertengahan April ini, tercatat hanya ada 83 kasus DB di Bumi Intanpari, jumlah yang jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 316 kasus.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karanganyar, Supardi, mengatakan tren penurunan ini terjadi secara konsisten sejak bulan Januari. Meskipun terdapat penambahan dua kasus baru pada minggu terakhir, Dinkes melaporkan hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

“Di tahun 2026 sampai minggu ke-15 ada 83 kasus, penurunannya cukup signifikan dibandingkan tahun 2025 yang pada periode sama mencapai 316 kasus. Untuk sementara alhamdulillah belum ada data jemaah atau warga yang sampai meninggal dunia akibat DB ini,” ujar Kabid P2P Dinkes Karanganyar, Supardi saat dikonfirmasi RRI, Rabu 29 April 2026.

Supardi menjelaskan wilayah Kecamatan Karanganyar Kota masih menjadi daerah dengan temuan kasus tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya. Penularan virus ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan perkembangbiakan vektor nyamuk yang biasanya mencapai puncak populasi pada bulan Maret hingga Mei.

“Sebaran tertinggi tetap di wilayah perkotaan yaitu Kecamatan Karanganyar, karena memang faktor utama DB adalah vektor nyamuknya. Pengendalian vektor melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk atau PSN menjadi sangat penting di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar,” ujar Supardi.

Masyarakat diimbau untuk lebih teliti memperhatikan wadah-wadah yang berpotensi menampung air bersih, seperti tempat sampah atau botol bekas, karena menjadi lokasi favorit nyamuk bertelur. Selain faktor cuaca dan curah hujan, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dianggap menjadi faktor kunci dalam menekan angka penyebaran kasus tahun ini.

“Nyamuk ini hidup di air yang bersih, jadi kalau ada tempat sampah yang menampung air harus dibalik agar tidak bisa berkembang. Selain faktor cuaca, peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan PSN sangat menentukan terjadinya penurunan kasus yang signifikan ini,” ucapnya.

Adapun Dinas Kesehatan juga mengingatkan warga untuk tetap menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna menjaga daya tahan tubuh terhadap serangan virus. Meski tren terus menurun, kewaspadaan kolektif masyarakat dalam menjaga sanitasi lingkungan masing-masing wajib dipertahankan agar tidak terjadi lonjakan kasus di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....