Doomscrolling, Kebiasaan Scroll tanpa Henti Diam-Diam Ganggu Kesehatan Mental

  • 17 Apr 2026 11:04 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Solo - Pernah merasa tidak bisa berhenti scroll media sosial, apalagi saat membaca berita-berita negatif? Hati jadi gelisah, tapi tetap saja lanjut membaca. Nah, kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling, dan ternyata cukup banyak dialami remaja di Indonesia.

Fenomena ini bukan sekadar “kebiasaan iseng” di waktu luang. Penelitian dalam jurnal Doomscrolling Behavior among Indonesian Adolescents: Psychological Correlates and Digital Media Usage Patterns yang dipublikasikan di Journal Alifba menemukan bahwa doomscrolling memiliki dampak nyata, baik secara psikologis maupun dalam aktivitas belajar.

Tim peneliti menyebut, semakin sering seseorang melakukan doomscrolling, semakin tinggi pula risiko mengalami kecemasan, gangguan tidur, hingga sulit berkonsentrasi.

Mengapa Susah Berhenti Scroll?

Ternyata, ada beberapa alasan kenapa kita “terjebak” dalam doomscrolling. Salah satunya adalah FOMO (Fear of Missing Out), alias takut ketinggalan informasi. Rasanya ingin terus update, walaupun yang dibaca justru bikin cemas.

Selain itu, ada juga dorongan untuk tetap merasa terhubung dengan dunia luar, apalagi di era digital seperti sekarang. Ditambah lagi, algoritma media sosial yang terus menyajikan konten serupa membuat kita makin betah (atau malah terjebak) untuk terus scroll.

Penelitian lain dalam jurnal Eduvest - Journal of Universal Studies bahkan menyebut doomscrolling sebagai perilaku digital yang “maladaptif”, karena dipengaruhi banyak faktor mulai dari stres, kecemasan, hingga kebiasaan penggunaan media sosial yang berlebihan.

Dampak

Meski terlihat sepele, efek doomscrolling bisa cukup serius. Mulai dari rasa cemas berlebih, mudah lelah secara emosional, hingga kualitas tidur yang menurun.

Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa mengganggu keseharian, termasuk produktivitas belajar dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Para peneliti menyarankan pentingnya kesadaran dalam menggunakan media digital. Literasi digital, manajemen stres, dan kemampuan mengontrol diri jadi kunci utama untuk menghindari kebiasaan ini.

Peran lingkungan juga penting. Sekolah, guru, hingga orang tua diharapkan bisa ikut membantu menciptakan kebiasaan digital yang lebih sehat misalnya dengan mengingatkan batas waktu penggunaan gadget atau mengajak aktivitas offline yang lebih seimbang.

Mengurangi doomscrolling sebenarnya bisa dimulai dari langkah kecil. Misalnya, membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang lebih positif, atau memberi jeda saat mulai merasa lelah saat scrolling.

Di tengah derasnya informasi saat ini, penting untuk tetap sadar, tidak semua yang kita baca harus kita konsumsi terus-menerus. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan tetap terhubung dengan dunia digital. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....