Kenali Penyebab dan Gejala Batu Saluran Kemih
- 26 Feb 2026 10:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kasus penyakit batu saluran kemih masih cukup tinggi di Indonesia. Penyakit ini bahkan disebut lebih sering terjadi di wilayah yang masuk kategori stone belt area, termasuk Indonesia. Masyarakat diminta mengenali gejala dan faktor risikonya sejak dini agar tidak berujung pada komplikasi.
Hal tersebut disampaikan dr. Akbar Pradikto, Sp.U (dr. Dito), spesialis Urologi RSUD Bung Karno Surakarta, dalam dialog kesehatan di Pro 4 RRI Surakarta pada Selasa, 24 Februari 2026. Ia menjelaskan, batu saluran kemih merupakan jaringan keras menyerupai batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih, mulai dari ginjal hingga saluran keluarnya urine.
“Saluran kemih itu cukup panjang, dari ginjal, turun ke ureter, ke kantong kemih, sampai ke saluran keluar. Batunya bisa berada di mana saja di sepanjang jalur itu,” ujarnya.
Menurutnya, batu dapat berpindah posisi. Awalnya terbentuk di ginjal, kemudian turun ke ureter hingga kandung kemih. Pada ukuran kecil, batu bisa keluar sendiri saat buang air kecil. Namun jika dibiarkan, batu dapat membesar dan menimbulkan keluhan lebih berat.
dr. Dito menyebut kurangnya asupan cairan sebagai salah satu faktor utama. Kondisi ini membuat urine menjadi terlalu jenuh sehingga zat-zat yang seharusnya larut justru mengendap dan membentuk batu.
“Intinya kurang hidrasi. Kalau kita kurang minum, zat di urine jadi mengendap lama-lama jadi batu,” katanya.
| Baca juga: Fakta atau Mitos? Es Krim Membuat Batuk |
Selain itu, konsumsi minuman diuretik seperti kopi dan teh secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko, terutama jika tidak diimbangi dengan air putih yang cukup. Faktor genetik dan konsumsi obat tertentu juga turut berperan.
Dari sisi pola makan, ia menambahkan bahwa makanan tinggi purin, oksalat, dan kalsium perlu dikonsumsi secara wajar. Di Indonesia, batu asam urat termasuk jenis yang cukup sering ditemukan.
Gejala batu saluran kemih umumnya berupa nyeri dan gangguan berkemih. Nyeri bisa terasa tumpul di pinggang saat batu berada di ginjal, atau tajam dan hilang timbul ketika turun ke ureter. Pasien juga dapat mengalami urine keruh, bercampur darah, sensasi tidak tuntas saat buang air kecil, hingga keluarnya pasir atau batu kecil.
| Baca juga: Resiko Kesehatan karena Kurang Minum |
“Kalau ada gejala seperti itu, jangan diabaikan. Lebih baik diperiksakan daripada mendiagnosis sendiri,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat usia di atas 30 tahun, terutama yang memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko, untuk melakukan pemeriksaan rutin minimal setahun sekali. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui tes urine, USG, hingga CT Scan sebagai standar diagnosis.
Terkait penanganan, tidak semua kasus memerlukan operasi. Batu berukuran kecil dapat ditangani dengan obat, sementara batu berukuran besar memerlukan tindakan medis. Saat ini tersedia metode minimal invasif seperti Shock Wave Lithotripsy (SWL) untuk memecahkan batu tanpa sayatan besar. Fasilitas tersebut telah tersedia di RSUD Bung Karno Surakarta.
dr. Dito menegaskan, menjaga pola hidup sehat dengan cukup minum air putih, mengatur pola makan, serta rutin berolahraga menjadi langkah pencegahan utama. “Tubuh kita biasanya sudah memberi tanda kalau ada masalah. Jangan diabaikan. Lebih baik periksa lebih awal daripada datang saat kondisi sudah parah,” katanya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....