Tanpa Air dan Kimia, Sonic Fire Seal dari UNS Padamkan Api Pakai Suara
- 16 Jun 2026 21:30 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Tiga mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta menghadirkan inovasi unik dalam teknologi pemadam kebakaran ramah lingkungan.
Karya inovatif yang diberi nama Sonic Fire Seal tersebut menjadi salah satu produk teknologi yang dipamerkan dalam ajang Krenova 2026 pada hari Jumat, 12 Juni 2026.
Tim yang terdiri atas Maestro Indar Utomo, Panji Ario Putra, dan Ndaru Wildan Satria Yuda ini mengembangkan konsep ilmu fisika untuk menghadirkan solusi baru penanganan kebakaran.
Panji Ario Putra mengatakan, Ide pembuatan alat ini berawal dari keresahan mereka terhadap penggunaan alat pemadam kebakaran konvensional yang dinilai masih mengandalkan air serta bahan kimia yang berisiko merusak instalasi listrik.
"Saat terjadi kebakaran di area yang banyak perangkat elektronik, penggunaan air atau bahan kimia justru bisa menimbulkan kerusakan tambahan. Dari situ kami mencoba mencari alternatif lain," ujar Panji.
Dalam proses pembuatannya, ketiga mahasiswa kreatif ini memanfaatkan berbagai komponen bekas untuk merakit prototipe pemadam api.
Sementara itu, Maestro Indar Utomo menjelaskan, mereka menggunakan subwoofer bekas hingga sensor-sensor elektronik praktikum yang dikendalikan melalui sebuah sistem sirkuit mikrokontroler.
"Prototipe ini dirancang menggunakan sensor api dan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pengendali sistem. Ketika sensor mendeteksi adanya panas atau api, sinyal akan diteruskan ke ESP32," jelas Maestro Indar Utomo memaparkan mekanisme kerja alat tersebut.
Sistem pemadam ini bekerja dengan memancarkan gelombang suara berfrekuensi rendah melalui subwoofer yang langsung diarahkan menuju ke titik api.
Gelombang suara tersebut berfungsi untuk mengganggu pasokan oksigen di sekitar area pembakaran sehingga nyala api dapat terisolasi dan perlahan padam secara efektif.
Meskipun sempat menghadapi kendala integrasi sensor, tim berhasil mengatasi hambatan pemrograman tersebut berkat bantuan internet dan teknologi kecerdasan buatan.
Ke depan, mereka berharap dapat mengembangkan komponen alat ini agar memiliki kapasitas frekuensi yang lebih optimal untuk menangani skala kebakaran yang lebih besar di lapangan. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....