Tiga Kloter Tiba, 48 Jamaah Wafat di TanahSuci
- 29 Jun 2025 10:12 WIB
- Surakarta
KBRN, Boyolali: Pemulangan jamaah haji melalui Debarkasi Solo masih terus berlangsung. Hingga Ahad (29/6/2025), tercatat 56 kelompok terbang (kloter) telah kembali ke Tanah Air dengan jumlah total sebanyak 20.116 jamaah.
Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Solo, Gentur Rachma Indriadi menyampaikan perkembangan terkini proses pemulangan.
“Masa pemulangan, dapat kami sampaikan bahwa sampai dengan saat ini kita telah menerima kloter sebanyak 56 dengan jumlah 20.116 jemaah yang sudah kembali ke tanah air,” ujarnya.
Gentur menjelaskan, pada hari yang sama Embarkasi Solo dijadwalkan menerima tiga kloter. “Dan hari ini jadwalnya kita akan menerima 3 kedatangan kloter dari kloter 56 yang sudah kita terima tadi pagi pukul 05.41 dari Kabupaten Rembang, Alhamdulillah jumlahnya 359. Dan saat ini kita sedang menunggu proses kedatangan kloter 57 yang dijadwalkan mendarat di Bandara Adi Sumarmo jam 08.30 dengan pesawat GA-6457 dari Kabupaten Blora dan Kabupaten Rembang. Ini gabungan. Dan terakhir nanti di jam 23.20 kita akan menerima kloter 58 dari Kabupaten Blora,” ucapnya.
Di sisi lain, pihak PPIH juga memberikan update kondisi kesehatan para jamaah. “Untuk update jemaah sakit di Tanah Suci kita tercatat ada 88 jemaah yang sakit di Arab Saudi dan 18 di antaranya adalah jemaah yang seharusnya sudah kembali ke tanah air. Jadi ada 18 jemaah yang tertunda kepulangannya karena alasan kesehatan masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi,” katanya.
Selain itu, ada tiga jamaah yang dirujuk ke RSUP Surakarta usai tiba di Embarkasi karena kondisi kesehatan. Sementara itu, jumlah jamaah yang wafat hingga saat ini tercatat 48 orang.
Salah satu petugas pembimbing haji, Musofa dari Kloter 56 menyampaikan pengalamannya dalam mendampingi jamaah dari Kabupaten Rembang. “Sebenarnya kalau mengatakan kendala itu banyak, kalau kita tergantung mindset kita. Kalau kita anggap itu bukan kendala, maka menjadi ringan semuanya,” katanya.
Ia mengakui dinamika di lapangan cukup kompleks, namun dapat diatasi berkat koordinasi dan komunikasi yang baik. “Alhamdulillah karena kita tidak lelah untuk searching dan kita tidak lelah untuk koordinasi dengan berbagai pihak, maka Alhamdulillah semua kendala itu kita hadapi dengan senyuman bahasa saya. Jadi lancar Alhamdulillah awal sampai akhir,” ucapnya.
Musofa juga mengungkapkan bahwa satu jamaah dalam kloternya, Bapak Sumariono, wafat sebelum kepulangan. Sebagai petugas, Musofa merasa bahwa tugasnya adalah bagian dari ibadah. “Kesan petugas itu karena memang namanya petugas itu, tugasku adalah ibadahku. Maka kalau kita mindset-nya di awal kita tata bahwa tugas kita itulah ibadah kita, makanya insya Allah tugasnya dapat, ibadahnya juga Alhamdulillah dapat juga,” ujarnya. (Ase)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....