Membaca Novel Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Cara Memahami Manusia
- 30 Sep 2026 19:42 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah kesibukan dan derasnya informasi dari layar, membaca novel panjang kini terasa semakin sulit bagi sebagian orang. Padahal, sejumlah tulisan menunjukkan bahwa membaca fiksi masih memiliki manfaat penting, termasuk membantu seseorang memahami emosi dan pengalaman orang lain.
Salah satu penelitian yang dibahas Smithsonian Magazine menemukan bahwa pembaca fiksi sastra lebih mampu mengenali emosi orang lain dibandingkan mereka yang membaca fiksi populer atau nonfiksi. Peneliti menjelaskan bahwa cerita dengan karakter yang kompleks membuat pembaca perlu memahami sudut pandang dan perasaan tokoh secara lebih mendalam.
Kemampuan tersebut membuat membaca sastra tidak hanya berkaitan dengan memahami cerita, tetapi juga dapat membantu pembaca melihat manusia sebagai sosok yang memiliki banyak sisi. Karakter dalam novel sering kali memiliki perasaan dan motivasi yang tidak sederhana, mirip dengan orang-orang yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, mempertahankan kebiasaan membaca buku di era digital bukan perkara mudah karena kehidupan sehari-hari semakin dipenuhi layar dan berbagai distraksi. The Guardian mencatat bahwa kebiasaan membaca melalui layar dapat mendorong orang untuk lebih sering melakukan skimming dan scanning, sehingga membaca buku dengan konsentrasi panjang terasa semakin menantang.
Meski begitu, sulitnya membaca novel klasik bukan berarti kemampuan membaca telah hilang sepenuhnya, melainkan bisa jadi karena kita sudah jarang melatihnya. Beberapa ahli yang dikutip The Guardian menyarankan untuk memulai dari bacaan yang lebih pendek atau membaca satu bab dalam satu waktu agar pembaca kembali terbiasa menikmati cerita secara perlahan.
Penulis Elif Shafak juga melihat novel sebagai ruang untuk memperlambat diri di tengah kehidupan yang dipenuhi informasi dan keinginan serba cepat. Menurutnya, cerita panjang dapat memberikan wawasan, empati, kecerdasan emosional, dan rasa welas asih yang sulit diperoleh hanya dari konsumsi informasi secara cepat.
Pada akhirnya, membaca novel mungkin tidak harus selalu dilakukan dengan target menyelesaikan puluhan buku dalam setahun. Dengan menyediakan waktu untuk membaca secara perlahan, kita bukan hanya menikmati sebuah cerita, tetapi juga belajar memahami karakter, melihat dunia dari sudut pandang berbeda, dan mungkin sedikit lebih memahami manusia di sekitar kita. (Arifin/ Aksan – Mahasiswa Magang UNS)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....