Aspal vs Beton, Mana yang Bikin Ban Mobil Cepat Aus?

  • 16 Sep 2026 10:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Banyak pengemudi mungkin pernah memperhatikan bahwa karakter jalan beton atau cor terasa berbeda dibandingkan jalan aspal. Permukaannya cenderung lebih kasar, suara ban terdengar lebih keras, dan pada beberapa ruas terasa lebih banyak getaran yang masuk ke kabin. Dari kondisi tersebut kemudian muncul anggapan bahwa jalan beton bisa membuat ban mobil lebih cepat aus atau bahkan lebih cepat halus dibandingkan ketika mobil lebih sering melaju di jalan aspal. Lantas, apakah anggapan tersebut benar secara teknis?

Secara umum, jalan beton memang berpotensi memberikan tingkat keausan ban yang lebih tinggi dibandingkan aspal, terutama apabila permukaan betonnya kasar dan memiliki tekstur agregat yang cukup abrasif. Ketika ban berputar dan bersentuhan dengan permukaan jalan, selalu terjadi gesekan yang menyebabkan sebagian kecil material tapak ban terkikis. Semakin abrasif permukaan jalan, semakin besar pula potensi terjadinya keausan. Namun, bukan berarti setiap jalan beton pasti membuat ban lebih cepat habis daripada jalan aspal.

Faktor yang cukup menentukan adalah tekstur permukaan jalan. Jalan beton yang baru dibuat biasanya memiliki permukaan dengan tekstur tertentu untuk meningkatkan daya cengkeram, khususnya ketika kondisi basah. Tekstur yang kasar dapat meningkatkan interaksi antara karet ban dan permukaan jalan. Jika mobil digunakan secara rutin pada permukaan seperti ini, keausan tapak ban bisa lebih terasa dibandingkan pada aspal yang memiliki tekstur lebih halus. Sebaliknya, beton yang sudah lama digunakan dan permukaannya mengalami perubahan belum tentu selalu lebih abrasif.

Meski begitu, kondisi jalan bukan satu-satunya faktor yang menentukan cepat atau lambatnya ban habis. Tekanan angin, spooring dan balancing, gaya berkendara, beban kendaraan, jenis ban, temperatur, hingga kondisi kaki-kaki turut mempengaruhi usia pakai ban. Ban dengan tekanan yang tidak sesuai, misalnya, dapat mengalami keausan tidak merata. Begitu pula dengan kebiasaan mengerem keras, berakselerasi agresif, atau sering menikung dengan kecepatan tinggi yang dapat meningkatkan beban kerja pada tapak ban.

Menariknya, permukaan jalan yang kasar juga tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Tekstur jalan yang dirancang dengan baik justru dibutuhkan untuk memberikan traksi yang memadai, terutama ketika terdapat air di permukaan. Masalahnya adalah ketika tekstur terlalu kasar, kondisi permukaan sudah rusak, atau terdapat agregat yang menonjol dan tajam. Dalam situasi tersebut, gesekan dan tekanan lokal pada ban dapat meningkat sehingga potensi keausannya juga lebih besar.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia berpendapat bahwa jalanan beton akan lebih cepat membuat ban menjadi aus dibandingkan dengan aspal. Namun ketika terkena air atau terendam banjir jalanan aspal memiliki ketahanan atau umur yang lebih cepat rusak dibandingkan dengan beton, sebab jalanan aspal memiliki tekstur yang lebih elastis dibandingkan dengan beton. Aspal juga memiliki beberapa tekstur atau jenis secara fisika dalam satuan koefisien k atau coefficient of friction.

Pemilik mobil sangat disarankan untuk rutin memeriksa tekanan ban, melakukan spooring dan balancing sesuai kebutuhan, serta memperhatikan pola keausan tapak. Dengan perawatan yang benar dan gaya berkendara yang wajar, usia pakai ban tetap bisa optimal meskipun mobil sering digunakan di berbagai jenis permukaan jalan.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....