Doomscrolling: Kebiasaan Melihat Berita Justru Membuat Cemas

  • 26 Agt 2026 09:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta - Di era digital, mendapatkan informasi terbaru hanya membutuhkan beberapa sentuhan pada layar ponsel. Berita tentang bencana, konflik, kriminalitas, politik, ekonomi, hingga berbagai persoalan sosial dapat muncul terus-menerus melalui media sosial dan aplikasi berita. Tidak jarang seseorang awalnya hanya ingin mengetahui satu informasi, tetapi kemudian terus menggulir layar untuk membaca berita berikutnya. Kebiasaan terus-menerus mencari dan membaca informasi negatif tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling. Penelitian yang dikembangkan oleh Sharma, Lee, dan Johnson menunjukkan bahwa doomscrolling merupakan pola konsumsi informasi negatif yang dapat berkaitan dengan tekanan psikologis dan kesejahteraan seseorang.

Doomscrolling berbeda dengan sekadar membaca berita untuk mendapatkan informasi. Pada doomscrolling, seseorang cenderung terus mencari informasi negatif secara berulang meskipun aktivitas tersebut membuat dirinya semakin tidak nyaman atau cemas. Salah satu alasan seseorang sulit berhenti adalah adanya keinginan untuk memperoleh kepastian ketika menghadapi situasi yang tidak diketahui atau dianggap mengancam. Penelitian juga menemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), penggunaan media sosial yang bermasalah, serta tekanan psikologis. Dengan demikian, semakin sering seseorang terjebak dalam pola konsumsi informasi negatif, semakin besar kemungkinan aktivitas tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis yang kurang baik, meskipun penelitian yang ada tidak selalu membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental menjadi perhatian karena informasi negatif dapat membuat seseorang terus memusatkan perhatian pada ancaman dan berbagai kemungkinan buruk. Penelitian Taskin dkk. (2024) terhadap 400 pengguna media sosial menemukan bahwa doomscrolling berhubungan dengan kesejahteraan mental melalui mindfulness dan secondary traumatic stress. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat doomscrolling yang tinggi berkaitan dengan kesulitan untuk tetap memperhatikan kondisi saat ini dan kecenderungan terpaku pada berita negatif. Paparan terhadap berbagai peristiwa buruk yang terjadi pada orang lain juga dapat menimbulkan tekanan psikologis meskipun seseorang tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Kebiasaan mengonsumsi berita secara berlebihan juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa psikolog semakin banyak memperhatikan munculnya tekanan yang berkaitan dengan konsumsi berita, termasuk istilah seperti doomscrolling, headline anxiety, dan headline stress. Paparan berita yang terus menerus dapat membuat seseorang tetap memikirkan berbagai peristiwa negatif ketika seharusnya sedang tidur, bekerja, belajar, makan, atau berinteraksi dengan keluarga. Penelitian lain mengenai konsumsi media selama pandemi juga menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan peningkatan gejala depresi serta PTSD pada kondisi tertentu, meskipun hasil tersebut tidak berarti bahwa seluruh penggunaan media sosial secara otomatis menyebabkan gangguan mental.

Menghindari berita sepenuhnya bukanlah solusi karena informasi tetap diperlukan untuk memahami keadaan dan mengambil keputusan yang tepat. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan konsumsi informasi yang sehat, seperti menentukan waktu tertentu untuk membaca berita dan menghindari kebiasaan memeriksa pembaruan secara terus-menerus. Memilih sumber berita yang kredibel juga penting agar seseorang tidak terlalu banyak terpapar informasi yang sensasional, berulang, atau belum terverifikasi. Ketika membaca berita mulai membuat seseorang merasa semakin cemas, mengambil jeda dari layar dan melakukan aktivitas lain dapat membantu mengurangi paparan informasi yang berlebihan. American Psychological Association juga merekomendasikan adanya batasan dalam konsumsi berita agar seseorang tetap memperoleh informasi tanpa mengalami news overload.

Pada akhirnya, mengikuti perkembangan berita bukanlah kebiasaan yang buruk, tetapi cara seseorang mengonsumsi informasi perlu diperhatikan. Berita seharusnya membantu seseorang memahami dunia, bukan membuatnya terus-menerus merasa berada dalam ancaman. Mengenali tanda-tanda doomscrolling, seperti sulit berhenti menggulir layar, terus mencari berita negatif, merasa semakin cemas setelah membaca berita, atau mengorbankan waktu tidur demi mengikuti perkembangan informasi, dapat menjadi langkah awal untuk mengubah kebiasaan tersebut. Dengan membatasi waktu konsumsi berita, memilih sumber yang terpercaya, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari informasi negatif, seseorang dapat tetap terinformasi tanpa harus mengorbankan ketenangan pikirannya. (Rosita-LPU)

Daftar Sumber :

  1. Taskin, S., Yildirim Kurtulus, H., Satici, S. A., & Deniz, M. E. (2024). Doomscrolling and mental well-being in social media users: A serial mediation through mindfulness and secondary traumatic stress. Journal of Community Psychology, 52, 512–524.
    Baca artikel ilmiah lengkap di Wiley Online Library
  2. Sharma, B., Lee, S. S., & Johnson, B. K. Doomscrolling Scale: Its Association with Personality Traits, Psychological Distress, Social Media Use, and Wellbeing.
    Baca artikel lengkap melalui PubMed Central (PMC)
  3. Price, M., Legrand, A. C., & Brier, Z. M. F. (2022). Doomscrolling during COVID-19: The negative association between daily social and traditional media consumption and mental health symptoms during the COVID-19 pandemic. Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy, 14(8), 1338–1346.
    Baca artikel lengkap melalui PubMed Central (PMC)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....