Coolant Hijau, Merah, Biru: Apa Sebenarnya Bedanya?
- 23 Agt 2026 21:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta: Bagi pemilik mobil, coolant bukan sekadar cairan berwarna yang dituangkan ke radiator. Cairan pendingin memiliki peran penting dalam membantu menjaga temperatur kerja mesin sekaligus memberikan perlindungan terhadap korosi di dalam sistem pendingin. Menariknya, coolant yang beredar di pasaran Indonesia memiliki beragam jenis dan formulasi. Karena itu, memilih coolant sebaiknya tidak hanya berdasarkan warna atau merek, tetapi juga teknologi aditif dan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan.
Jika dikategorikan berdasarkan teknologi aditif, jenis coolant yang paling umum dikenal adalah IAT (Inorganic Additive Technology), OAT (Organic Acid Technology), dan HOAT (Hybrid Organic Acid Technology). IAT merupakan teknologi yang lebih konvensional dan banyak digunakan pada kendaraan generasi lama. Coolant jenis ini menggunakan inhibitor korosi anorganik, seperti silikat atau fosfat, untuk memberikan perlindungan pada komponen sistem pendingin. Karena aditifnya lebih cepat terdegradasi, interval penggantiannya umumnya lebih pendek dibandingkan coolant dengan teknologi yang lebih baru.
| Baca juga: Filosofi Tersembunyi Tombol PlayStation |
Berikutnya ada OAT, yang banyak digunakan pada kendaraan modern. Berbeda dari IAT, OAT menggunakan inhibitor korosi berbasis asam organik yang bekerja lebih selektif pada area logam yang membutuhkan perlindungan. Teknologi ini memungkinkan coolant memiliki masa pakai lebih panjang dan cenderung menghasilkan lebih sedikit endapan dibandingkan formulasi anorganik tertentu. Namun, bukan berarti OAT otomatis cocok untuk semua mobil karena kompatibilitasnya tetap harus mengikuti spesifikasi sistem pendingin kendaraan.
Sementara itu, HOAT merupakan teknologi hibrida yang menggabungkan karakteristik inhibitor organik dan anorganik. Formulasi ini dirancang untuk memberikan perlindungan korosi yang luas sekaligus mempertahankan keunggulan teknologi organik. Menariknya, HOAT sendiri dapat memiliki formulasi yang berbeda-beda antar produsen, sehingga istilah HOAT saja belum cukup untuk menentukan kecocokan sebuah coolant dengan mobil tertentu. Artinya, membaca spesifikasi produk tetap lebih penting daripada sekadar melihat tulisan IAT, OAT, atau HOAT pada kemasan.
Selain berdasarkan teknologi aditif, coolant di pasaran juga dapat dibedakan berdasarkan bentuk atau konsentrasinya, yakni coolant konsentrat dan pre-mixed atau ready-to-use. Coolant konsentrat harus diencerkan menggunakan air dengan kualitas yang sesuai dan perbandingan yang ditentukan produsen sebelum dimasukkan ke sistem pendingin. Sementara coolant pre-mixed sudah dicampur sebelumnya sehingga lebih praktis digunakan. Standar ASTM D3306 sendiri mencakup coolant berbasis glycol untuk kendaraan ringan, termasuk formulasi konsentrat maupun coolant yang sudah diencerkan.
Hal lain yang sering membuat pemilik mobil keliru adalah warna coolant. Ada produk berwarna hijau, merah, biru, kuning, pink, hingga warna lainnya. Namun, warna bukan standar universal yang dapat digunakan untuk menentukan teknologi coolant. Dua coolant dengan warna berbeda belum tentu tidak kompatibel, begitu pula dua coolant dengan warna sama belum tentu memiliki formulasi yang identik. Karena itu, jangan menjadikan warna sebagai patokan utama ketika melakukan penggantian atau menambah coolant.
Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia satu pendapat bahwa coolant dapat dikategorikan menjadi silica based (IAT), OAT dan HOAT. Namun perlu dicanangkan bahwa jenis coolant tidak berpatokan pada warna nya, sebab pewarnaan coolant itu sangat tergantung produsennya misal toyota warna pink dan honda warna biru. Direkomendasikan pergantian rutin coolant tiap 2-3 tahun sekali, sebab semakin lama coolant akan menjadi semakin asam dan kemungkinan akan merusak komponen radiator dari dalam.
(Ihsan Ramadhana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....