Photobooth Jadi Aktivitas Wajib Nongkrong Anak Muda di Surakarta?

  • 14 Sep 2026 04:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta — Pemandangan berbeda kini terlihat di sejumlah tempat nongkrong di Kota Solo. Di tengah maraknya kafe dan pusat keramaian, antrean generasi muda tidak hanya terlihat di kasir pemesanan, melainkan di depan bilik photobooth. Layanan foto otomatis ini mulai menjadi aktivitas pilihan anak muda Surakarta saat berkumpul bersama teman maupun pasangan.

Penggunaan mesin foto otomatis ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Merujuk catatan sejarah fotografi, konsep awal photobooth dipatenkan oleh William Pope dan Edward Poole pada 1888, lalu dikembangkan secara komersial oleh Anatol Josepho pada 1925 di New York lewat mesin Photomaton.

Setelah sempat meredup akibat tingginya penggunaan kamera ponsel, layanan foto cetak instan ini kini kembali hadir di tempat-tempat publik dengan tampilan yang disesuaikan.

Di Surakarta, keberadaan photobooth mudah dijumpai di beberapa lokasi strategis. Salah satunya berada di kawasan Koridor Jalan Gatot Subroto (Gatsu) yang ramai dipadati pengunjung pada sore hingga malam hari.

Selain itu, fasilitas ini juga tersedia di kafe-kafe kawasan Jalan Slamet Riyadi, seperti di 523Hub dan Laju Kopi untuk memfasilitasi pengunjung kafe yang ingin berfoto. Kembali diminatinya photobooth tidak lepas dari keinginan anak muda memiliki dokumentasi berbentuk fisik.

Berbeda dengan berkas foto yang tersimpan di galeri ponsel, hasil cetakan foto dinilai memberikan kepuasan tersendiri. Cetakan berukuran strip tersebut umumnya disimpan di dalam dompet, ditempel pada casing ponsel, atau dijadikan hiasan kamar sebagai pengingat momen kebersamaan.

Peluang ini dimanfaatkan oleh para pengelola photobooth lokal di Solo untuk menawarkan berbagai pilihan visual, menyediakan bingkai (frame) foto bertema khusus, mulai dari gaya bergambar sederhana hingga gaya seperti di koran. Pengelola juga melengkapi dengan pencahayaan yang memadai dan properti tambahan.

Dari segi biaya, layanan ini terbilang terjangkau bagi kelompok pelajar dan mahasiswa. Tarif yang ditawarkan berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000 untuk satu kali sesi. Dari harga tersebut, pengunjung mendapatkan dua lembar cetakan foto strip sekaligus berkas digital yang dapat diunduh melalui pemindaian kode QR.

Keberadaan photobooth di Jalan Gatsu hingga kawasan jalan utama Surakarta menunjukkan bahwa media cetak foto masih memiliki pasar tersendiri. Bagi anak muda di Solo, kehadiran fasilitas ini menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mengabadikan momen berkumpul secara praktis. (Faizal/UIN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....