Menjaga Asa di Atas Rel: Cerita Angga dan Sahabat Perjalanan Bernama Polsuska
- 24 Sep 2026 21:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Terik matahari perlahan melunak, menyisakan bias keemasan siang menuju sore yang membelah hamparan sawah hijau di wilayah Daop 6 Yogyakarta. Di dalam gerbong kereta api yang sejuk, laju roda besi merayap lembut dari satu kota ke kota lainnya. Siapa sangka, di balik kenyamanan perjalanan ini, tersimpan cerita-cerita menegangkan sekaligus mengharukan yang jarang diketahui orang.
Bagi Angga Earieska, rel kereta api bukan sekadar jalur besi biasa, melainkan panggung pengabdian yang telah ia jalani selama 13 tahun. Sejak resmi bertugas sebagai Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) pada 2013, hari-hari Angga selalu diuji oleh dinamika lapangan yang tak terduga. Dinas di Daop 6 yang mencakup Solo, Sragen, Wonogiri, Klaten, hingga Yogyakarta, menuntutnya siaga penuh menghadapi berbagai karakter manusia.
Tugas seorang Polsuska ternyata jauh lebih luas dari yang kita bayangkan. Di pundak mereka, ada dua tanggung jawab besar yang diemban sekaligus. Pertama adalah mengamankan objek vital mulai dari stasiun, rel, jembatan, hingga aset PT KAI, termasuk merangkul warga sekitar jalur kereta.
Kedua, dan ini yang paling krusial, adalah mengamankan operasional kereta api di atas gerbong. Mulai dari mengantisipasi tindak kejahatan, mendampingi kondektur memeriksa tiket, hingga menjaga ketertiban umum. Siapa yang menduga, tugas pengamanan ini pernah mempertemukan Angga dengan situasi yang menguji nyali di keheningan malam?
Kisah itu terjadi di atas kereta Argo Lawu yang melaju dalam gelap malam. Berbekal data intelijen yang mendeteksi seorang penumpang sebagai residivis pencuri berpengalaman, Angga bersama timnya langsung bersiap siaga. Gerak-gerik pelaku dipantau secara jeli lewat kamera CCTV dari ruang operator kereta makan.
Menjelang kereta memasuki Stasiun Yogyakarta di larut malam, debar jantung para petugas berpacu dengan waktu. Saat seluruh penumpang dibangunkan dan diminta mengecek barang bawaan, benar saja, ada seorang penumpang yang histeris mendapati laptopnya raib. Tanpa buang waktu, pelaku langsung diringkus dan digiring turun untuk diserahkan ke kepolisian.
“Jadi kami tunggu sampai pelaku berhasil melakukan aksinya dulu, supaya ada barang bukti. Kami juga berkoordinasi dengan Tim polsuska di Stasiun Yogyakarta untuk menyiapkan penyambutan dan juga polisi dari Polsek Gedong Tengen Jogja. Nah, begitu kereta hampir memasuki Jogja, kami bangunkan semua penumpang dan kami minta mereka mengecek barang masing-masing. Dan betul, saat itu ada penumpang yang kehilangan laptop. Lalu kami ajak beliau, serta dua tersangka kami giring turun, untuk di interogasi di Markas Polsuska Yogyakarta,” kisah Angga kepada RRI Surakarta.
Namun, drama di atas kereta tidak selalu tentang penjahat berdasi atau pencuri licik. Angga juga pernah dibuat keteteran saat mengawal Kereta Bengawan dari Stasiun Lempuyangan. Satu gerbong penuh berisi anak-anak SMP yang sedang study tour tiba-tiba mengalami kesurupan massal secara beruntun.
“Rombongan siswa SMP naik dari stasiun Lempuyangan, kemudian ada 3 anak yang terindikasi kesurupan. Menurut keterangan dari tourguide-nya, peristiwa itu disebabkan karena hotelnya agak angker. Lama lama teman lainya juga ikut kesurupan. Lalu, nyebar hingga hampir 1 gerbong yang dinaiki oleh rombongan siswa SMP tersebut mengalami kesurupan,” cerita Angga.
Suasana gerbong yang semula tenang berubah mencekam dalam hitungan menit. Dengan naluri kebapakannya, Angga langsung berkoordinasi cepat dengan pusat untuk mencari bala bantuan rohani. Berkat kesigapan koordinasi hingga ke Stasiun Kutoarjo, badai kepanikan itu akhirnya berhasil diredam, menyelamatkan satu gerbong penuh anak-anak dari ketakutan.
Di balik ketegasannya menjaga ketertiban, Angga menyimpan kebanggaan mendalam atas proses gemblengan masa lalunya. Ia dibentuk melalui gemblengan keras di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jabar, lalu digembleng lagi lewat baret oranye Pusdikpassus Kopassus TNI di Batujajar. Tak heran jika ia memandang profesinya dengan penuh kehormatan. "Polsuska itu menurut saya adalah anak dari TNI dan Polri," kenangnya bangga.
Berkat transformasi sistem di PT KAI saat ini, wajah perjalanan kereta api sudah berubah total. Sistem tiket dan boarding yang super ketat berhasil mengeliminasi penumpang gelap, membuat para pelaku kejahatan berpikir ribuan kali untuk beraksi. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, nyaris tidak ada laporan pencurian di atas kereta.
Rasa aman dan nyaman inilah yang dirasakan langsung oleh para penumpang setia, seperti Irfan Nugroho (40), warga Sukoharjo. Meski tidak tiap hari naik kereta, ia punya kesan mendalam terhadap kehadiran para petugas di gerbong. "Keberadaan polsuska di dalam kereta bukan hanya menghadirkan rasa aman, tetapi juga rasa nyaman. Ketika anak kami berdiri, mereka tidak sungkan menyarankan penumpang laki dewasa yang sehat untuk mempersilakan anak kami duduk," ucap Irfan kepada RRI.
Cerita serupa diungkapkan Dian Safitri (43), warga Jogja yang akrab dengan kereta lokal. Ia mengenang bagaimana ketatnya petugas di era lama, hingga kini merasa sangat terbantu oleh kehadiran Polsuska di KRL modern. "Kalau sekarang KRL sering bantu penumpang prioritas mencarikan kursi. Kalau untuk saya pribadi, tempat bertanya ya kalau aku bingung di stasiun," tutur Dian tersenyum.
Bahkan, bagi Valmay Alberth, kehadiran Polsuska dan layanan seperti Lost and Found di stasiun memberikan ketenangan tersendiri. Terutama bagi kelompok prioritas seperti ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia yang kerap dicarikan tempat duduk dengan sigap oleh petugas. “Kalau ketinggalan atau kehilangan barang, saya pribadi belum pernah sih, semoga enggak ya,” ucapnya.
Dari kepedulian-kepedulian kecil di atas gerbong inilah, rantai kebaikan itu terus tersambung. Sebab bagi Angga, bayaran termahal dari lelahnya bertugas bukanlah materi, melainkan senyum tulus penumpang yang ditolong saat sakit atau rasa lega saat barang tertinggal berhasil dikembalikan. Menurut Angga, semua itu berpijak pada prinsip luhur yang diwariskan Almarhum Ignasius Jonan, mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) periode 2009-2014, yaitu "keselamatan penumpang adalah segalanya".
Seiring malam semakin larut dan lampu-lampu stasiun mulai berpendar menyambut fajar, Angga menitipkan pesan sederhana namun penting bagi kita semua, yaitu:
- Berdirilah di belakang garis aman saat menunggu kereta di peron.
- Patuhi aturan dan tata tertib selama perjalanan.
- Jangan pernah meninggalkan gawai yang sedang diisi daya di kursi saat pergi ke toilet atau gerbong makan.
- Cek kembali barang bawaan sebelum turun agar tidak ada yang tertinggal.
"Jika suatu saat Anda menghadapi kendala atau merasa tidak aman di tengah perjalanan, jangan panik. Cukup hubungi nomor kondektur yang tertera di dinding gerbong atau Call Center KAI di (021) 121. Di atas roda besi yang terus berputar, selalu ada tangan-tangan sigap yang menjaga keselamatan hingga Anda tiba di pelukan keluarga tercinta," tutur Angga terenyum. (Dinar Rusydiana)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....