Sawah si Cinde, Asal Mula Kampung Cinderejo Solo

  • 27 Feb 2026 13:16 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Sekilas mendengar namanya Cinderejo, orang sering berpikir nama Cinde ini dikaitkan dengan motif kain panjang yang dikenal dengan jarik Cinde. Padahal dari sumber sejarah disebut nama Kampung Cinderejo ternyata nama sawah si Cinde. Merupakan sawah jimat atau tertutup yang sudah ada sejak jaman KGPAA Mangkunegara I.

Kampung Cinderejo merupakan sebuah kampung yang terletak di kalurahan Gilingan Kecamatan Banjarsari Solo. Berada di antara Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi, kampung Cinderejo terbagi menjadi 2 sisi: Cinderejo Lor ( utara ) dan Cinderejo Kidul (selatan).

Menurut sejarawan Dani Saptoni, sawah jimat yang juga disebut sawah larangan atau tutupan si Cinde ini, merupakan peninggalan dari Mangkunegara I dan dilanjutkan oleh Mangkunegara II. Sawah si Cinde digunakan khusus oleh para penguasa Pura Mangkunegara tersebut untuk tapa brata dengan cara menggarap sawah pada malam hari.

Nama sawah si Cinde ini juga termuat dalam buku Riwayat Hidup K.P.H Surya Nataningrat yang dibuat Pamong Wandawa Mangkunegara II saat khol ke 145 KGPAA Mangkunegara II tanggal 28 Agustus 1979. Pangeran Nataningrat merupakan putra dari Mangkunegara II .

“Tertulis buku Kanjeng Pangeran Haryo Surya Nataningrat, beliau adalah salah satu putra Mangkunegara II dari garwo ampil Mas Ajeng Ndoyosari. Waktu kecil Pangeran Nataningrat ini bernama RM Sarjono, lalu karena salah satu adik MN II bernama RM Manguningrat ndak punya putra maka RM Sarjono dititipkan ke pamannya untuk diasuh,” kata Dani Saptoni kepada RRI.CO.ID Kamis 26 Februari 2026.

Dani yang juga Ketua Solo Societiet ini lebih lanjut menceritakan, karena Pangeran Nataningrat sering dimanja, dia menjadi nakal. Pada suatu hari berbuat kasalahan yang fatal, RM Sarjono ini kemudian dibuang dari Pura Mangkunegaran ikut tinggal di rumah Ki Demang sahabat karib Mangkunegara II.

“Untuk menebus kesalahan , Ki Demang meminta kepada RM Sarjono untuk memohon maaf pada ayahnya. Karena sudah dibuang permohonan maaf ini dilakukan tidak di dalam Pura Mangkunagaran, melainkan di salah satu tempat sebuah sawah bernama sawah si Cinde,” ungkap Dani Saptoni berkisah

Setelah bertemu dengan Mangkunegara II dan diampuni, Pangeran Nataningrat kemudian diberikan tanggung jawab untuk mengelola sawah si Cinde tersebut. Putra nakal ini akhirnya bisa menghayati dan memaknai bahwa hidup harus bekerja keras, meski putra bangsawan tak boleh bermanja-manja. Memahami dan mengalami sendiri pahit getir kehidupan .

Lambat laut sawah yang bernama si Cinde itu kemudian dirubah berubah menjadi perkebunan tebu. Dibangun sebuah Gilingan atau tempat menggiling tebu menjadi gula. Lama kelamaan bergantilah menjadi kampung Cinderejo dan dekatnya kampung Gilingan.

Terminal Tirtonadi di Kalurahan Gilingan Solo, yang disebut-sebut dulu merupakan lahan sawah si Cinde peninggalan Mangkunegoro I ( Foto : RRI/Mulato)

Tokoh masyarakat Cinderejo, Gilingan Solo Ardianto Kuswinarno, membenarkan kalau kampungnya dulu merupakan area persawahan. Lokasi sawah tersebut sekarang menjadi kampung Cinderejo Lor. Ada sebuah batu di lokasi bekas sawah si Cinde yang diyakini masyarakat pernah menjadi tempat bertapa penguasa Pura Mangkunegaran.

“Cinderejo itu menjadi daerah sosok pertanian itu sebelah utara, Cinderejo itu terminal dan sebagainya, termasuk dulu ada sejarahnya barat nya ada watu lintang, gak sembarangnya bisa dipindah. persawahan si Cinde itu di Lor,” kata Ardianto.

Sedangkan untuk Cinderejo Kidul karena dekat dengan Stasiun Solo Balapan pada jaman penjajah Belanda dulu pernah digunakan sebagai depo minyak. Setelah tempat itu kosong, digunakan untuk perkampungan.

Cinderejo itu berdiri perkampungan di daerah tempat tinggal. Dulu terdapat kilang jaman Belanda dekat Stasiun Balapan. Dulu ada depo minyak besar, sejalannya waktu terusirnya penjajahan tempat itu kosong. Sesepuh mendirikan perkampungan dulu nya rata-rata pegawai PJKA lambat laun ada yang sudah resmi ada yang tidak resmi,” ungkap Ardianto.

Sementara abdi dalem Pariwisata Pura Mangkunegaran Joko Pramudya mengatakan, literatur tentang sejarah Kampung Cinderejo Solo belum ada di koleksi Rekso Pustaka Mangkunegaran. Karena itu jika kemudian ada upaya untuk menggali sejarah kampung termasuk yang dulu menjadi wilayah Pura Mangkunegaran, maka patut patut diapresiasi dan pihaknya siap untuk membantu.

“ Kita belum pernah membacanya namun mungkin literatur yang saya baca atau saya cari berbeda. Kalau seperti itu penggalian keberadaan kampung monggo saja, disesuaikan dengan kenyataan sejarah sendiri, monggo silahkan kalau di Mangkunegaran ada referensi-referensi bisa digali kita sediakan Rekso Pustaka ada kaitannya sejarah kampung di Solo atau sekitarnya, “ ungkap Joko Pramudya.

Kota Solo atau Surakarta yang merupakan peninggalan Keraton Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunegaran dalam berbagai sendi kehidupan termasuk keberadaan kampung, ternyata banyak memiliki sejarah yang unik dan menarik, termasuk kampung Cinderejo. Tinggal sekarang perlu dilakukan upaya untuk bisa mewariskan ke anak-anak muda sekarang agar mereka tak melupakan sejarah masa lalu sebagai peninggalan yang berharga. ( Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita