Tahun Kuda Api, Memecut Semangat Harmoni Kota Surakarta

  • 23 Feb 2026 13:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Gemerlap lampion warna warni berbentuk bulat maupun karakter, memenuhi sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Balai Kota hingga pasar Gede Kota Surakarta. Kehadirannya bukan sekedar pemanis mata dan memperindah kota. Melainkan menjadi penanda dimulainya tradisi tahunan yang selalu dinanti warga hingga wisatawan.

Nuansa lampion menjadi simbol hadirnya perayaan tahun baru Imlek, di kota yang terus menjunjung tinggi toleransi ini. Karakter lampion yang paling menonjol, dengan bentuk kuda. Tak mengherankan, karena tahun baru kali ini berdasarkan kalender lunisoar Tionghoa masuk dalam shio Kuda Api.

Kuda Api dianggap sebagai kombinasi yang kuat dalam shio China. Api melambangkan aktivitas dan semangat, sedangkan Kuda mewakili kemandirian dan tindakan. Semangat kuda api ini seakan memecut seluruh pihak yang terlibat, untuk mewujudkan perayaan Imlek yang lebih bermakna.

Menariknya tradisi tahunan di kota Surakarta ini, tidak hanya melibatkan masyarakat etnis Tionghoa, namun juga warga pribumi dan etnis lain yang sudah terjalin harmonis. Sumartono Hadinoto, Ketua Panitia Bersama Imlek Kota Surakarta menginginkan tradisi yang sudah berjalan pasca era reformasi ini bisa tertanam pada generasi penerus agar tetap lestari.

"Jadi kita memang adanya Imlek ini sejak awal setelah reformasi, kami ingin melestarikan budaya, kedua kami ingin mengangkat Kota Solo sebagai salah satu kota wisata Imlek yang kini sudah diakui Kementerian Ekonomi dan Kreatif, kemudian terakhir mengangkat Kebhinekaan di Kota Solo dan ikut menjaga serta merawat," kata Sumartono Hadinoto, pada konferensi pers Kamis 29 Januari 2026 di Kantor PMS.

Sumartono Hadinoto, Ketua Panitia Bersama Imlek Kota Surakarta saat memberikan penjelasan kepada wartawan soal kegiatan imlek di Kantor PMS ( Foto : RRI/Joko Putro )

Selain kehadiran lampion yang menjadi penanda Imlek di Kota Surakarta , momen perayaan hari besar masyarakat Tionghoa ini juga selalu menghadirkan wisata susur Kali Pepe sepanjang kurang lebih 800 meter. Koordinator perahu wisata, Yohana Fransiska Lili menargetkan 500-an pengunjung per hari selama Imlek berlangsung.

"Ini kan juga menjadi event unggulan kami, harapan kami pengunjungnya bisa maksimal seperti tahun kemarin. Untuk per harinya kita targetnya 550 kalau tahun kemarin 450, tahun ini harapan kami 550 per-malam," ucap Yohana Fransiska Lili.

Kehadiran wisata perahu susur Kali Pepe ini memiliki daya tarik yang tak kalah seru dengan lampion. Terbukti mampu menarik wisatawan luar kota yang hadir di Kota Surakarta hanya karena ingin merasakan keseruan menikmati ketenangan di atas perahu sambil menonton kilau lampu lampion.

Andin dan Gema salah satunya. Warga asli Kota Jogja ini rela datang dari luar Kota Surakarta hanya ingin menikmati wisata perahu yang hanya ada satu tahun sekali.

"Seru sih soalnya kalau di Jogja belum pernah lihat yang ramai gitu lampionnya, waktu tau di Solo ada kaya gini, kaya tertarik gitu. Nah terus waktu tau ini event tahunan yang ada lampionnya juga dan terus naik kapal jadi pengen coba, setelah mencoba) seru sih pengen naik lagi," ujar Gema.

Suasana wisata perahu susur kali Pepe mewarnai Perayaan Imlek di Kota Surakarta ( Foto : RRI/ Joko Putro )

Tak mau kalah dengan hadirnya lampion dan wisata perahu susur Kali Pepe, Klenteng Tien Kok Sie di kota Surakarta yang terletak di area Pasar Gede juga punya andil. Klenteng tertua di kota Surakarta yang dibangun tahun 1745 ini memiliki event menarik yang selalu bisa menjadi salah satu referensi wisata disaat perayaan Tahun Baru Imlek.

Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya menceritakan, ada acara tolak bala yang selalu dijalankan dalam perayaan Imlek. Dimulai membaca ritual yang kemudian dilanjutkan melepas burung hingga ikan yang berjumlah ribuan.

Menurut Sumantri, pihaknya sudah melepas burung dan ikan. Burung yang dilepas jumlahnya kurang lebih 8000. Padahal sebenarnya kewajiban Klenteng biasanya selalu melepas 888 atau 999 burung.

"Tapi banyak umat juga yang ingin ikut melepas jadi setara individu. Kalau individu perhitungannya umur tambah satu, jadi ini tadi saya hitung kurang lebih ada 4.000 lebih burung, tapi kalau ikan kayanya tadi saya jumlah acak ada 14.000, tahun ini luar biasa," kata Sumantri Dana Waluya

Masa orde baru memang menjadi yang terberat bagi masyarakat Tionghoa. Namun kini Imlek tidak hanya sekedar perayaan penting agama Konghucu, juga budaya bagi semua warga etnis Tionghoa yang bisa dirayakan dengan rasa syukur dan suka cita.

Lebih dari itu tahun baru Imlek di Kota Surakarta, menjadi destinasi wisata yang bisa dinikmati bersama semua warga tanpa sekat. Dari gemerlap lampion, wisata perahu hingga ritual sakral di Klenteng, Imlek mampu menunjukkan wajah baru Kota Surakarta sebagai kota yang hangat, terbuka dan terus merawat harmoni dalam keberagaman. (Joko Putro / Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita