Kian Langka di Kota Solo, Tahok Minuman Tradisi Etnis Tionghoa

  • 20 Feb 2026 14:43 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID - Surakarta: Mendengar namanya tahok atau ada yang menyebut tahuk, sudah memberikan kesan makanan atau minuman ini berasal dari Cina. Tak salah memang, karena jika ditilik dari asal katanya tahok diambil dari tahoa. Tao atau teu artinya kacang kedelai sedangkan hoa atau hu berarti lumat. Jadi tahoa adalah kacang kedelai yang dilumatkan sehingga berbentuk seperti bubur.

Setelah menjadi bubur, tahok bisa dimodifikasi sebagai makanan dengan cita rasa asin, seperti di Semarang. Namun dalam perkembangannya bisa dikemas dengan varian lain seperti di Solo sebagai minuman wedang t ahok.

Menurut sejarawan Solo Heri Priyatmoko, di berbagai daerah lain makanan khas masyarakat Tionghoa ini juga bisa dijumpai, biasanya dijajakan di daerah pecinan. Kota Semarang mengenal tahok dengan sebutan wedang tahu, Surabaya tahua, Singkawang bubur tahu sementara Palembang kembang tahu.

Heri Priyatmoko berpendapat, wedang tahok di Solo punya keunikan sehingga layak untuk diceritakan. Bukan sekedar minuman, akan tetapi sarat makna dan cerita sejarah.

“Tahok di Solo dijumpai di jumpai kawasan pecinan. Itu identik. Daerah yang dihuni sahabat Tionghoa. Akrab di lidah temen Tionghoa bahannya kedelai. Awalnya dikasih jahe dan kembang tahu ditaburi udang kecil kecap asin dan daun bawang/ketumbar. Pada umumnya ya orang makan tahok dengan mengggigit cakwe, sekarang tidak ada perpaduan itu, “ kata Heri Priyatmoko kepada rri.co.id Kamis 19 Februari 2026.

Tak tahu kapan persisnya tahok dibawa para pedagang Cina masuk ke tanah Jawa. Namun dari catatan sejarah, makanan maupun minuman bubur kedelai ini sudah mampu bertahan seabad lebih.

Heri Priyatmoko yang juga dosen Fakultas sejarah Universitas Sanata Darma Yogjakarta ini mengatakan, tahok bertahan karena masih banyak peminatnya, bukan hanya masyarakat Tionghoa namun juga warga pribumi dan etnis lain. Ini menjadi bukti sejarah adanya akulturasi atau asimilasi pedagang Tionghoa, membawa kebudayaan dari negeri tirai bambu ke Indonesia melalui makanan dan minuman.

“Tahok menjadi sebuah bukti sejarah adanya alkuturasi atau asimililasi pedagang Tionghoa ke Solo. Mereka membawa kebudayaannya minuman tahok ke tanah Jawa. Mampu bertahan se-abad lebih karena masih banyak pendukungnya Tionghoa Solo banyak di Balong, Ketandan, Jogobayan dan Coyudan,” ungkap Heri Priyatmoko

Lebih lanjut Heri Priyatmoko menyatakan, peminat tahok yang banyak tersebut menunjukkan masyarakat butuh minum tahok untuk melepas rindu atau mengobati rada dahaga. Tahok tumbuh dan berkembang melewati sekat-sekat sosial.

“Dengan harga kisaran 10 ribu siapapun lintas umur bisa mencicipi. Dan lintas kelas, tak hanya dimiliki orang Tionghoa tapi pribumi Jawa dan Arab. Hal ini menjadi sangat kontekstual keberagaman atau toleransi harus terus diperbincangkan ulang, “ ucapnya.

Sayangnya wedang yang enak dan menyehatkan ini, sekarang semakin langka di Solo. Hanya ada beberapa pedagang yang menjual wedang Tahok, seperti almarhum Citro Suwito yang diteruskan anaknya Sentot, berjualan di pasar Gede sisi barat. Sementara yang lain bisa dijumpai pasar buah pasar Gede sisi utara dan keturunan Slamet di dekat kretek Gantung Ketandan. Padahal jaman dulu, sekitar tahun 58 sampai tahun 68, penjualtTahok di Solo berjumlah 18 orang.

Menurut Sentot anak almarhum Citro Suwito , ayahnya bersama temannya Slamet, sudah berjualan tahok selama 50 tahun lebih. Dulu awalnya ikut juragan Tionghoa, sekarang karena ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu diteruskan turun temurun oleh anak cucunya.

Kendatipun jaman sudah berubah, proses pembuatan Tahok masih tetap menggunakan cara tradisional, agar tetap bisa mempertahankan cita rasa khas. Alat yang digunakan untuk menggiling dari dua roda batu yang ditumpuk dan dihubungkan oleh as pada tangkai kayu sebagai alat pemutarnya.

Memasaknya pun tetap dengan kayu batok dengan proses pembuatan mulai jam 1 malam . Juga cara menempatkan dengan wadah khusus dan diambil dengan sendok sayur besar ceper yang harus dipesan khusus.

“Kedelai direndam ½ jam. dicuci sampai bersih digiling ditempatkan ember besar dikasih air ledeng masukkan ke jimbeng besar kasih kantongan trus diperes, jadikan ini. Trus dimasak dengan kayu batok matang kasih bumbu pengental, dicampur sampai umeb ( mendidih) , unthuk ( busa ) dibuang ditutup trus jadi. Kuahnya dari jahe, pandan sere setelah panas gula pasir baru masuk, “ kata Sentot.

Tokoh masyarakat Solo dari etnis Tionghoa Aji Candra berharap agar wedang tradisional tersebut tidak musnah. Apalagi jika banyak mengkonsumsi wedang tahok membawa manfaat bagi kesehatan tubuh, karena dibuat dari kedelai yang mengandung protein tinggi, dilengkapi dengan air gula dicampur jahe yang hangat serta pandan dan sereh

“Selain protein nabati juga mengandung kalsium sehingga baik untuk mencegah osteoporosis dan memperkuat tulang. Kandungan vitamin E di dalamnya berperan sebagai anti oksidan, jadi tidak heran kalau Tahok juga dikenal sebagai obat awet muda. Senyawa yang menyerupai estrogen juga terkandung, diyakini bisa memperlancar haid bagi wanita dan mencegah kanker prostat bagi laki-laki. Tahok juga bisa dijadikan sebagai menu diet dengan mengkonsumsinya secara rutin setiap hari, “ ungkap Aji Candra menjelaskan.

Aji Candra lebih lanjut berkisah , saat istrinya hamil dulu tiap hari minta wedang tahok, waktu anaknya lahir dengan kulit yang bersih. Sehingga secara pribadi dia berharap, tahok tetap dijaga sebagai minuman tradisi dan masyarakat masih tetap menikmatinya.

“Harap banget enggak, jaman sudah berubah, mgkn anak jaman sekarang sudah tidak suka yang gitu-gitu. Hanya pada keluarga saya selalu mengatakan kalau bisa dilestarikan, karena menyehatkan dan menyegarkan. Jujur waktu istri dulu hamil tiap hari minta tahuk. anaknya putih. Itu kepercayaan, “ kata Aji Candra

Jaman memang sudah berubah, semakin langkanya wedang tahok di Kota Solo bisa jadi merupakan ekses dari perubahan jaman yang terjadi. Namun dalam konteks kekinian di saat sekarang toleransi sedang terus digaungkan, perlu dilahirkan lagi identitas produk kuliner yang harus diangkat di panggung Kota Solo.

Tahok salah satunya, karena rasanya pas di lidah semua etnis, harganya pun terjangkau semua komponen masyarakat, hanya 8 ribu hingga 10 ribu rupiah per mangkuk. Wedang Tahok bisa menjadi sarana terwujudnya kerukunan di tengah keberagaman. (Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita