Perjalanan Panjang Rahayu Wintari Menjadi Lentera Pendidikan
- 26 Nov 2025 21:03 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Di sebuah ruang kelas yang sederhana di SDN Nayu Barat 1 Surakarta, seorang guru yang telah mengabdi sejak tahun 1989 itu tersenyum kecil saat mengenang perjalanan hidupnya.
Namanya Rahayu Wintari, Guru Agama Katolik yang tak pernah menyangka akan menekuni profesi yang kini menjadi panggilannya selama lebih dari tiga dekade. Namun hidup membawanya ke jalan yang berbeda, jalan yang kemudian ia jalani dengan sepenuh hati.
“Dari SMA sebenarnya saya bukan ingin jadi guru,” katanya sambil tertawa pelan, Selasa (25/11/2025).
Rahayu bercerita, niat awalnya adalah bekerja di industri. Ia bahkan sempat mendaftar kuliah di Semarang, namun urusan legalisir rapor membuatnya pulang ke Cepu. Dari sanalah hidup mengarahkannya ke dunia lain.
“Ayo kamu didaftarkan Romo,” kenang Rahayu menirukan ajakan seseorang yang mengantarnya masuk sekolah guru di Madiun.
Sejak itu, pintu dunia pendidikan terbuka. Ia mengajar di SMP Katolik Kebon Dalem, lalu mengikuti suami merantau hingga Bagansiapi-api, Selatpanjang, hingga Bengkalis. Ia mengajar apa saja yang dibutuhkan, dari Agama Katolik hingga Bahasa Inggris yang kebetulan sudah ia kuasai sejak kelas 3 SD.
Perjalanannya tak pendek. Dua anak pertamanya lahir di Sumatera, salah satunya dinamai “Kurnia Bagan Pratiwi,” merujuk pada tempat tinggal mereka kala itu.
Setiba di Solo, ia akhirnya menetap dan mengajar di SDN Nayu Barat sampai sekarang, 25 tahun lamanya. Bagi Rahayu, setiap siswa memiliki cerita, potensi, dan keunikan masing-masing. Dari anak yang sulit membaca hingga yang kurang semangat berlatih, semua menjadi tantangan yang membuatnya terus belajar memahami tiap pribadi.
“Kalau sukanya ya sama siswanya. Anak-anak itu kan beda-beda. Tapi ada kadang menyebalkan juga,” ujarnya sambil tersenyum.
Selama lebih dari 30 tahun, ia menyaksikan perubahan kurikulum dari KBK hingga era IT. Ia belajar dari murid, dari rekan guru, bahkan dari anak-anaknya di rumah.
“Istilahnya apa ya, kebo nyusu gudel,” ucapnya, menggambarkan bagaimana ia kerap meminta murid mengajarinya teknologi.
Masalah utama menurutnya kini adalah literasi dan numerasi. Ada anak yang sejak kelas 1 hingga kelas 4 masih belum lancar membaca.
“Itu harus kerja sama. Dari rumah, sekolah, masyarakat. Kalau salah satu tidak jalan ya susah,” katanya menegaskan.
Ketika ditanya kapan ia merasa bangga menjadi guru, Rahayu langsung menyebut momen perubahan pada siswa pribadi siswanya.
“Dulu ditunggu orang tua sambil nangis. Sekarang sudah tidak. Sudah berani, sudah mandiri,” katanya dengan mata berbinar.
Baginya, mengajar dengan hati adalah kunci. Dimana anak mempunyai kemampuan, hanya waktunya saja yang berbeda-beda.
Kini usianya tak lagi muda. Mata dan lutut mulai melemah. Namun semangatnya tetap menyala, bahkan di tengah tuntutan teknologi yang terus berkembang.
“Saya juga menyesuaikan. Laptop, IT, ya belajar pelan-pelan,” ujarnya.
Bagi Rahayu, menjadi guru bukan sekedar profesi, melainkan hidup. Tak direncanakan, tak dicari, namun dijalani dengan cinta hingga kini ia menjadi salah satu sosok penting bagi ratusan anak di SDN Nayu Barat 1 Surakarta. Dan di setiap langkahnya, ada keyakinan yang ia pegang teguh dimana setiap anak punya potensi, tugas guru adalah menuntun hingga mereka menemukannya. (Dania)