Situasi Ekonomi 2026 Mendorong Masyarakat Berinvestasi Secara Bijak

  • 19 Agt 2026 23:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kondisi ekonomi pada 2026 mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan dan menentukan pilihan investasi. Di tengah perputaran uang yang dinilai masih cenderung stagnan, masyarakat disarankan tetap bergerak dan membuka peluang usaha sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua BPC Asosiasi Eksportir dan Produsen Handikraft Indonesia (ASEPI) Solo Raya, Sumartoyo, dalam program Obrolan Asta Cita RRI Surakarta Selasa, 18 Agustus 2026 Siang. Menurutnya, situasi ekonomi yang naik turun merupakan kondisi yang dapat terjadi dari waktu ke waktu sehingga masyarakat perlu mampu membaca peluang sekaligus mengukur kemampuan diri.

“Situasi seperti ini saya kira setiap tahun pasti akan kita mengalami seperti ini. Jadi masa-masa sulit, masa-masa gampang cari uang dan lain sebagainya,” ujar Sumartoyo.Ia menilai kondisi ekonomi saat ini tidak sepenuhnya buruk. Namun, masyarakat cenderung menahan pengeluaran sehingga perputaran uang menjadi lebih lambat. Kondisi tersebut membuat keputusan untuk membuka usaha baru maupun melakukan ekspansi harus dipertimbangkan secara matang.

Sumartoyo mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengikuti tren bisnis tanpa memperhitungkan modal, kemampuan, pengalaman, serta risiko. Menurutnya, investasi tidak selalu harus dilakukan dalam jumlah besar. Usaha sederhana dengan modal terbatas juga dapat menjadi bentuk investasi apabila dikelola dengan baik.“Artinya tidak harus besar bicara investasi itu tidak harus yang besar-besar lah. Kita yang kecil, sedang-sedang saja,” katanya.

Bahkan, Sumartoyo melihat sektor kuliner dan pariwisata masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Bagi masyarakat yang memiliki modal lebih, restoran, rumah makan, maupun objek wisata yang belum dikelola secara maksimal dapat menjadi alternatif investasi.

Namun, peluang tersebut tetap harus diiringi dengan kemampuan membaca risiko. Sumartoyo menyarankan calon pelaku usaha melakukan pengamatan dan belajar dari bisnis yang telah berjalan sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Menurutnya, belajar langsung dari usaha yang telah berkembang dapat membantu calon pengusaha memahami berbagai aspek bisnis, mulai dari kualitas produk, harga, pelayanan, hingga kebersihan. Ia mencontohkan bisnis restoran yang tidak hanya bergantung pada cita rasa makanan, tetapi juga pelayanan yang cepat, keramahan petugas, kebersihan, serta harga yang sesuai.

Selain kemampuan dan pengalaman, faktor finansial juga menjadi pertimbangan penting. Sumartoyo mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena melihat kesuksesan orang lain.

“Kemampuan untuk membaca situasi itu tergantung diri kita dan kemampuan diri kita, bukan orang lain. Jadi, jangan sampai usaha yang sama. Kita punya restoran, menunya sama, kemudian restoran sana menunya sama tapi kok sana ramai, ini umum ya. Ada apa ya? Ini penting,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam fenomena ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO). Menurutnya, tren bisnis seperti kedai kopi memang dapat menjadi peluang, tetapi tidak otomatis menjamin keberhasilan setiap orang yang ikut membuka usaha serupa.

Selain investasi, pengendalian usaha juga menjadi perhatian. Sumartoyo menilai pengawasan atau controlling diperlukan agar usaha yang telah berjalan tidak mengalami kerugian akibat masalah internal, termasuk ketidakjujuran karyawan. “Jangan 100% percaya, tapi controlling, pengawasan itu penting di setiap saat,” tegasnya.

Dalam menghadapi kondisi ekonomi 2026, Sumartoyo mengajak masyarakat untuk tetap optimistis tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Efisiensi pengeluaran, mengurangi utang, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan.

“Dalam menghadapi situasi seperti ini kita tetap bergerak. Kita tetap bergerak. Kemudian ojo utang-utang sik, jangan utang dulu, terus kemudian kurangi belanja, sedikit terus efisiensi,” kata Sumartoyo.

Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu menunggu kondisi ekonomi benar-benar sempurna untuk mulai bergerak. Namun, langkah yang diambil harus disesuaikan dengan kemampuan dan dilakukan melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Bagi Sumartoyo, kunci menghadapi situasi ekonomi yang penuh tantangan bukan sekadar memiliki modal besar, melainkan mampu membaca peluang, mengukur kemampuan, memahami risiko, dan terus belajar dari pengalaman. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....