BI Solo Dorong Maksimalkan Peredaran Uang Logam Melalui Program GAUL

  • 28 Sep 2026 14:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan uang logam dalam transaksi sehari-hari. Upaya tersebut dilakukan melalui program Gerakan Ambil Uang Logam atau GAUL sebagai bagian dari upaya memaksimalkan peredaran uang kartal, khususnya uang logam di wilayah Soloraya.

Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Andrea Hermawan mengatakan, program GAUL dilatarbelakangi kecenderungan masyarakat menyimpan uang logam yang diperoleh sebagai uang kembalian. Uang tersebut kerap disimpan di celengan, laci, maupun tempat lain sehingga tidak kembali beredar dalam transaksi.

“Ketika mendapat pengembalian uang logam ketika bertransaksi, belanja dan sebagainya itu biasanya cuma ditaruh di celengan, di laci, di dashboard mobil. Uangnya itu akhirnya ngendon, enggak disirkulasikan lagi,” kata Andrea, Minggu, 27 September 2026.

Menurut Andrea, kondisi tersebut membuat peredaran uang logam menjadi tidak optimal. Padahal, kebutuhan uang logam sebagai uang kembalian masih cukup tinggi, terutama pada sektor ritel.

Ia menyebut sejumlah toko ritel bahkan menyediakan layanan penukaran uang logam untuk memenuhi kebutuhan transaksi. Kondisi tersebut menunjukkan uang logam masih dibutuhkan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kadang-kadang kita lihat beberapa retail atau mungkin toko buku yang ada di daerah kampus sampai memasang ‘menerima penukaran uang logam pecahan Rp1.000, Rp500, Rp200, Rp100’. Berarti memang sebenarnya logam itu masih dibutuhkan, cuma kadang masyarakat sendiri yang enggak peka,” ujarnya.

Melalui program GAUL, Bank Indonesia berupaya menjadi jembatan agar uang logam yang tersimpan di masyarakat dapat kembali masuk ke dalam peredaran. Uang logam yang dihimpun dari masyarakat selanjutnya dapat diedarkan kembali melalui layanan penukaran yang tersedia di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo.

Andrea menjelaskan, optimalisasi sirkulasi uang merupakan bagian dari fungsi pengelolaan uang kartal. Uang yang masih layak edar dapat kembali digunakan, sedangkan uang yang sudah tidak layak edar akan ditarik dari peredaran sesuai mekanisme pengelolaan uang Rupiah.

Menurutnya, kondisi uang logam berbeda dengan uang kertas yang lebih mudah terlihat perputarannya melalui transaksi maupun perbankan. Uang logam cenderung tertahan di masyarakat karena kebiasaan menyimpan uang kembalian dalam nominal kecil.

“Memang untuk agar sirkulasinya tetap berjalan. Selama ini kita merasa BI sudah melayani, memenuhi kebutuhan bank, tapi ternyata ada retail yang masih membutuhkan dan kurang. Memang berarti logamnya itu mandek, enggak beredar,” kata Andrea.

Bank Indonesia Solo berharap masyarakat turut menjaga agar seluruh pecahan Rupiah, termasuk uang logam, tetap berputar dalam kegiatan ekonomi. Dengan demikian, kebutuhan uang kembalian di berbagai sektor transaksi dapat lebih mudah terpenuhi. (Ryan Assyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....