Seragam Sekolah Digunting Guru, Begini Reaksi Wali Murid
- 22 Apr 2025 23:16 WIB
- Surakarta
KBRN, Sragen: Seragam sekolah seorang siswa di SMP PGRI 5 Sukodono, Kabupaten Sragen digunting guru. Video pengguntingan seragam yang kemudian viral disebut pihak sekolah atas permintaan wali murid. Lantas apa reaksi orang tua siswa tersebut?
Dwi Aminardi (47) ayah siswa tersebut membenarkan perihal pengguntingan seragam putarannya. Dia membenarkan pengguntingan itu atas permintaan istrinya karena memang IKS (putranya) tidak nurut saat diminta menggunakan seragam SMP PGRI 5 Sukodono.
"Kalau dinasehati cuma diam tapi gak mau denger gitu. Waktu bu Anggrek telfon istri saya suruh ngasih tahu, ya udah buk sebenarnya udah dibeliin baju baru tapi kalau dikasih tahu gak mau denger ya dipotong saja," ucap Dwi di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Sragen, Selasa (22/4/2025).
"Kalau beliin (seragam) kapan kami lupa, tapi komunikasi dengan sekolah. Jadi dari pihak sekolah WA ke istri saya," katanya menambahkan.
Dwi mengakui putra keduanya dari tiga bersaudara itu memang lumayan bandel. Bahkan dikeluarkan dari SMP Islam Mondokan 2.
"(Bandel?) Iya. Dari sekolahan SMP Islam Mondokan 2 itu kan dikeluarkan. Terus masuk di PGRI. Masuk PGRI gak berubah kalau dikasih tahu diem gak ngelawan, istilahnya kalau orang jawa ndablek," katanya menegaskan.
Baca juga: Guru Gunting Seragam Siswa, Sekolah Beri Penjelasan
Baca juga: Inilah Sosok Guru Gunting Seragam Siswanya
Dwi mengakui semenjak peristiwa pengguntingan seragam itu putranya lantas menggunakan seragam baru. Namun lanjut dia selama berbulan bulan pindah di SMP PGRI 5 Sukodono itu masih tetap mengenakan seragam SMP Islam Mondokan.
"Harusnya kalau di PGRI itu kan sini (atas) putih bawah biru, tapi itu enggak (atas bawah) putih putih, karena itu seragam dari SMP Islam bukan seragam PGRI. Bandelnya ya sampai dikeluarkan itu," ucap dia.
Pihaknya menerima terkait pemberian sanksi pengguntingan seragam tersebut. Lantaran putranya tidak mau nurut. "Menerima (bajunya digunting), justru diminta, karena kita udah kasih tahu baik-baik tetap gak nurut orang tua. Istri saya kan yang minta motong."
Pada kesempatan sama, guru Anggrek Anggrayani menyebut, bahwa siswa tersebut mempunyai catatan buruk di sekolah. Seperti sering bolos dan siswanya yang ngeyel.
"Semua guru memperhatikan ke anak-anak dan lebih dikhususkan mohon maaf anak anak seperti anak Iksan sering bolos kita lebih dekati tapi sering ngeyel dan gladrah gitu," ucapnya di kantor Disdikbud Sragen, Selasa.
Siswa berinisial IKS itu sering dipanggil oleh guru bimbingan konseling (BK). "Dipanggil guru BK tiga kali ada catatan terus ada lagi panggilan panggilan yang bolos banyak banget dan buku BK dipenuhi catatan siswa itu," katanya menjelaskan.
Ditanya mengapa siswa tersebut tidak memotong bajunya sendiri, ia menegaskan bahwa mendapat ma dapat dari orang tua untuk menggunting seragam itu sendiri.
"Tidak (Kenapa tidak dipotong sendiri?), Karena kami yang diperintahkan orang tuanya yang memotong bu Anggrek saja," ujar Anggrek.
Usai kejadian itu, perilaku siswa tersebut mengalami perubahan namun masih tetap terlambat datang ke sekolah. Bahkan pihaknya mengapresiasi karena siswa tersebut tergolong pandai dengan nilai diatas siswa yang rajin.
"Kalau perilaku secara global ada banget, perubahan lebih baik dan lebih taat kepada aturan terutama pada seragam dan takut bolos. Kalau di siswa tersebut masih sering telat saja, dan kami maklumi jarak tempuhnya kan jauh. Terus kami peringatkan tapi masih sering telat," ucap dia. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....