Bagongan, Ragam Bahasa Unik dalam Tembok Keraton
- 06 Okt 2026 16:18 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Bahasa Bagongan adalah salah satu ragam bahasa Jawa yang berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta sejak dahulu. Bahasa ini termasuk ragam nonbaku, tetapi memiliki keunikan dan fungsi penting dalam kehidupan para abdi dalem keraton setempat (Wijayanti, 2018).
Berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya, Bahasa Bagongan tidak terlalu memperhatikan perbedaan tingkat tutur ketika digunakan sesama abdi. Penggunaan bahasa tersebut membuat komunikasi terasa lebih dekat, sehingga perbedaan jabatan tidak terlalu terasa dalam percakapan sehari-hari mereka.
Bahasa Bagongan memiliki beberapa bentuk perubahan kata jika dibandingkan dengan bahasa Jawa yang biasa digunakan. Perubahan tersebut berupa pergantian bunyi, pengurangan bunyi, perubahan kata secara keseluruhan, serta penggunaan nama hewan tertentu dalam percakapan.
Contoh Bahasa Bagongan
Bahasa Bagongan (Bahasa Jawa Krama)
Manira (Kula)
Mboya (Mboten)
Besaos (Namung)
Puniku (Punika)
Wenten (Wonten)
Nedha (Sumangga)
Pakenira (Panjenengan)
Punapi (Punapa)
Seyos (Sanes)
Henggeh (Inggih)
Olih (Angsal)
Kadipundi (Kadospundi)
Contoh kosakata tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Bagongan mempunyai banyak kata khas yang berbeda dari bahasa Jawa baku dalam pemakaiannya sehari-hari. Beberapa kata mengalami perubahan bunyi, sedangkan lainnya benar-benar menggunakan kata yang berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya (Wijayanti, 2018).
Bahasa Bagongan tidak hanya digunakan untuk berbicara, tetapi juga membantu menciptakan hubungan yang lebih nyaman antarabdi dalem keraton. Bahasa ini memiliki fungsi komunikatif, penghalusan, dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari para penggunanya di keraton.
Penggunaan Bahasa Bagongan juga berkaitan dengan keinginan menjaga tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keraton. Selain itu, bahasa tersebut digunakan untuk mengurangi jarak dan menciptakan rasa setara di antara para abdi dalem.
Keberadaan Bahasa Bagongan menjadi bukti bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti kehidupan masyarakat yang menggunakannya dalam berbagai lingkungan sosial. Karena itu, mengenal Bahasa Bagongan berarti turut memahami salah satu bagian menarik dari kekayaan bahasa dan budaya Jawa.(Maharsi- Maganghub 2026)
Referensi:
- Wijayanti, K. D. (2018). Bahasa Bagongan dan kedudukannya dalam perkembangan bahasa Jawa. Seminar Nasional Bahasa, Sastra Daerah, dan Pembelajarannya (SN-BSDP), 205–212.
- Poedjasoedarma, S., & Laginem. (2014). Bahasa Bagongan. Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....