Kreativitas Digital Jadi Kunci Kenalkan Sejarah Boyolali ke Generasi Muda
- 01 Okt 2026 05:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali mendorong generasi muda untuk mengenal dan menghidupkan kembali sejarah serta budaya daerah melalui kreativitas digital.
Langkah ini diwujudkan melalui forum rembug media sosial bertema “Menghidupkan Sejarah Lewat Lensa Digital” yang digelar di Museum Raden Hamong Wardoyo, Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini mempertemukan wartawan, kreator konten, dan pelajar untuk berdiskusi terkait optimalisasi platform digital.
Kepala Disdikbud Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, menyatakan bahwa agenda tersebut digelar secara rutin dengan memanfaatkan dana operasional museum agar keberadaan museum semakin akrab di kalangan milenial dan Gen Z.
“Kami mengambil tema menghidupkan sejarah lewat lensa digital. Kegiatan ini diselenggarakan setiap tahun agar museum lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas,” ujar Dwi Hari Kuncoro saat ditemui di lokasi acara, Rabu 30 September 2026.
Dwi berharap para pelajar yang hadir tidak sekadar menjadi pembuat konten (content creator), tetapi juga tetap menyisipkan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal dalam setiap karya yang mereka unggah di media sosial.
“Harapannya generasi penerus, termasuk para murid, bisa lebih mengenal sejarah Boyolali. Saat membuat konten, mereka tidak melupakan materi sejarah dan budaya yang ada,” katanya menambahkan.
Acara yang diikuti oleh pelajar SMK Negeri 1 Boyolali dan insan pers ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempromosikan potensi daerah.
Museum Sebagai Ruang Publik Kreatif
Lebih lanjut, Dwi menegaskan bahwa museum saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak bersejarah, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang publik dan studio kreatif, khususnya bagi siswa pendidikan vokasi.
Di saat bersamaan, area museum juga dipadati oleh rombongan siswa sekolah dasar yang sedang melakukan kunjungan edukatif.
“Karena ini ruang publik, kami tidak membatasi pengunjung. Harapannya kegiatan diskusi tetap berjalan lancar dan anak-anak yang berkunjung juga bisa menikmati museum dengan sukacita,” ucap Dwi.
Melalui integrasi teknologi dan pemanfaatan ruang edukasi yang inklusif, Disdikbud Boyolali optimistis sejarah dan budaya lokal dapat diakses secara lebih interaktif oleh masyarakat luas. (Kisno)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....