Pelaksanaan Ritual Tradisi Keduk Beji

  • 25 Sep 2026 06:00 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tradisi Keduk Beji merupakan adat masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini berkaitan dengan keberadaan Taman Wisata Tawun yang tercatat sejak 1952 dan mengalami perbaikan pada 1990 lalu.

Kambing kendit menjadi unsur penting dalam ritual Keduk Beji menurut kepercayaan masyarakat setempat untuk mencegah musibah masa lampau. Masyarakat meyakini kambing kendit berkaitan dengan upaya menghindari korban jiwa sekaligus menjaga keselamatan seluruh warga selama pelaksanaan ritual.

Rangkaian ritual diawali slametan, kemudian kambing kendit dimandikan dengan diayunkan dalam air dari selatan menuju utara tiga kali. Setelah itu, kambing kendit disembelih, sedangkan juru silem melakukan penyelaman sebanyak tiga kali sebelum ritual utama kemudian dimulai.

Puncak ritual dilakukan dengan membersihkan kotoran pada sumber mata air bersama-sama oleh juru silem dan masyarakat Desa Tawun.

Setelah sendang dinyatakan bersih, juru silem kembali menyelam untuk meletakkan sesaji dalam kendi kecil sebagai bagian ritual penghormatan.

Sesaji tersebut menjadi bentuk permohonan doa dan restu kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penghormatan kepada Eyang Lodrajaya.

Eyang Lodrajaya dipercaya mengalami moksa di Sendang Beji, sehingga namanya selalu dihormati dalam pelaksanaan ritual tersebut hingga kini.

Rangkaian ritual juga menghadirkan tiga gunungan dan berbagai makanan yang telah disiapkan masyarakat sebagai perlengkapan utama upacara tradisi. Daging kambing kendit kemudian menjadi pelengkap gunungan dalam rangkaian kegiatan adat masyarakat Desa Tawun sebagai bagian dari ritual.

Tari Kecetan menjadi bagian penting ritual Keduk Beji dengan gerakan menari diatas air sambil menyambukkan kayu ke air. Tindakan tersebut dipercaya sebagai bentuk tolak bala untuk menghindari pagebluk atau wabah yang dapat merugikan masyarakat setempat langsung.

Tradisi Keduk Beji tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga mengandung nilai sosial, budaya, gotong royong, serta kepedulian. Nilai tersebut terlihat melalui upaya masyarakat menjaga Sendang Beji, termasuk larangan mengambil bulus, labi-labi, maupun berbagai benda disekitarnya.

Referensi:

  1. Badan Pusat Statistik Ngawi. (2004). Kecamatan Padas dalam Angka Tahun 2004. Koordinator Statistik Kecamatan Padas, Ngawi.
  2. Andrian, D. (2018, 11 Juli). Legenda Sendang Tawun. Legenda Sendang Tawun Ngawi Jatim (Duk Beji).
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....