Festival Payung Indonesia 2026 saat Payung Tradisi Menjadi Panggung Kreativitas

  • 27 Agt 2026 19:18 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Festival Payung Indonesia 2026 kembali digelar di Kota Solo dengan mengusung tema ‘Cathra Padi’. Memasuki penyelenggaraan ke-13, festival yang menjadikan payung tradisi sebagai sumber inspirasi seni dan budaya ini akan berlangsung pada 4–6 September 2026 di Taman Balekambang, Solo.

Direktur Mataya Art and Heritage sekaligus pendiri Festival Payung Indonesia, Heru Prasetya saat dialog Jagongan PRO 4 RRI Surakarta Rabu, 26 Agustus 2026 mengatakan gelaran tahun ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat.

“Festival Payung Indonesia ini tahun ini memasuki tahun ke-13,” ujar Heru dalam perbincangan bersama RRI Surakarta. Ia menjelaskan, tema Catra Padi dipilih untuk menggali hubungan antara budaya padi, tradisi pertanian, dan kehidupan masyarakat Nusantara, kata Heru.

Festival tahun ini menghadirkan lebih dari 3.000 seniman dari 41 kota di Indonesia serta peserta dari sejumlah negara, di antaranya Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan India. Berbagai karya akan ditampilkan dengan menjadikan payung bukan sekadar benda pelindung dari panas dan hujan, melainkan sebagai medium ekspresi seni kontemporer.

Menurut Heru, Festival Payung Indonesia 2026 juga mengalami peningkatan jumlah pertunjukan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya terdapat sekitar 90 pertunjukan, tahun ini jumlahnya mencapai 160 pertunjukan yang berlangsung selama tiga hari dan tersebar di tiga panggung di kawasan Taman Balekambang.

Selain pertunjukan, pengunjung dapat menikmati beragam pameran dan aktivitas kreatif. Festival akan menampilkan payung rajut, payung sulam, payung perca, hingga payung lukis. Lebih dari 100 perajin atau komunitas payung rajut dari berbagai daerah akan terlibat, sementara mahasiswa seni lukis murni dari UNS dijadwalkan memamerkan sekitar 50 payung lukis hasil kreasi mereka.

Menariknya, festival dirancang sebagai ruang interaksi bagi pengunjung. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat mengikuti berbagai workshop, seperti melukis, merajut, dan menyulam payung.

“Festival Payung Indonesia adalah festival yang interaktif sebenarnya. Jadi nanti selain para pengunjung bisa menyaksikan pertunjukan, pameran, workshop, tapi juga mereka bisa ikut terlibat di dalam workshop-workshop itu,” kata Heru.

Semangat edukasi juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. Anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia pertanian padi sekaligus memahami sejarah dan keberadaan payung tradisi sebagai bagian dari pusaka budaya Nusantara.

Festival ini juga mempertemukan seni, budaya, dan literasi. Sebanyak 38 penulis Indonesia terlibat dalam penulisan buku yang mengangkat tema festival. Selain bedah buku, agenda lainnya meliputi artisan talk, dialog budaya, serta pameran festival dari sejumlah daerah di Indonesia.

Tidak berhenti di tingkat nasional, Festival Payung Indonesia juga diarahkan menjadi ruang diplomasi budaya. Salah satu agenda yang disiapkan adalah dialog Sister Festival antara Indonesia dan Thailand. Kerja sama tersebut melanjutkan hubungan yang telah dibangun dengan Bosang Umbrella Festival di Chiang Mai, Thailand.

Heru menuturkan bahwa hubungan kedua festival telah berlangsung sejak 2017. Festival Payung Indonesia secara rutin hadir di Thailand, sementara delegasi Thailand datang ke Solo untuk berpartisipasi dalam Festival Payung Indonesia. Pola tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi jejaring festival payung di kawasan Asia.

“Jadi nanti ada Jepang, Cina, India, Vietnam, terus juga ada dari Thailand, Kamboja, India. Yang mereka punya tradisi payung semuanya dan nanti para penggiatnya, para festival akan menjadi satu yang namanya Sepayung Asia,” ujar Heru.

Di sisi lain, Festival Payung Indonesia juga membawa misi untuk menghidupkan kembali keberadaan perajin payung tradisi. Heru menilai perkembangan payung pabrikan dan berkurangnya aktivitas perajin menjadi tantangan bagi keberlanjutan payung tradisional. Karena itu, festival diharapkan mampu menciptakan ruang apresiasi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin.

Dengan perpaduan pertunjukan, pameran, workshop, literasi, UMKM, dan diplomasi budaya, Festival Payung Indonesia 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda wisata tahunan Kota Solo, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk mengenalkan, merawat, dan mengembangkan payung tradisi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....