Ini Bukti Wayang Tetap Dilestarikan Gen Z, Peran Orang Tua Sangat Diperlukan
- 27 Agt 2026 00:00 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Strategi pelestarian wayang di era modern dibahas di Jagongan 'Suara Wayang Muda' RRI Surakarta pada 24 Agustus 2026
- Dwi Esti Nastiti menekankan bahwa dukungan orang tua merupakan faktor krusial agar anak-anak tidak menganggap budaya wayang sebagai kewajiban yang membosankan.
- Dalang cilik Rafandra Askara Bintang, siswa kelas VI SD Mojosongo V Solo, hadir dalam diskusi sebagai representasi generasi muda yang melestarikan seni wayang.
RRI.CO.ID - Jagongan 'Suara Wayang Muda, Saat Kelir Menjadi Panggung Generasi Z dan Alpha' membahas bagaimana cara melestarikan wayang di era modern. Acara ini berlangsung Senin, 24 Agustus 2026 pukul 09.00–10.00 WIB di Pro4 RRI Surakarta.
Narasumber Dwi Esti Nastiti dari UMKM PUS menegaskan bahwa dukungan orang tua menjadi faktor utama agar anak-anak tidak merasa budaya sebagai kewajiban yang membosankan. Ia hadir bersama cucunya, Rafandra Askara Bintang, siswa kelas VI SD Mojosongo V Solo yang dikenal sebagai dalang cilik.
Jagongan radio Pro4 RRI Surakarta menyoroti bagaimana keluarga berperan besar dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya. Rafandra sejak usia dua tahun sudah tertarik dengan wayang karena selalu didukung oleh neneknya, Dwi Esti, yang aktif mengajaknya mengenal dunia seni, misalnya ke Sriwedari Solo.
Menurut Dwi Esti, orang tua harus memberi kesempatan anak-anak untuk tampil dan berlatih. Dukungan keluarga akan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kebanggaan terhadap budaya.
"Support dari orang tua itu paling utama, misalnya dengan membelikan wayang sederhana atau memasukkan anak ke sanggar sejak dini," kata Dwi Esti Nastiti.
Rafandra menambahkan bahwa generasi muda bisa belajar wayang dari berbagai sumber digital. Ia menyebut YouTube, TikTok, dan buku sebagai sarana untuk mengenal lakon dan tokoh wayang.
"Wayang memang kuno, tapi sudah mulai berkembang di zaman ini," ujar Rafandra Azkara Bintang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada sekolah atau komunitas, tetapi juga peran aktif keluarga. Dengan cara itu, anak-anak dapat tumbuh mencintai budaya tanpa merasa terbebani.
Jagongan menjadi ruang diskusi penting untuk menghubungkan budaya tradisional dengan generasi baru. Konsep ini membuktikan bahwa kelir wayang dapat menjadi panggung kreatif lintas generasi dengan dukungan keluarga.
Masyarakat dapat mendengarkan acara budaya lainnya melalui Pro4 RRI Surakarta 95,2 FM atau streaming di RRI Digital. Simpan nomor Pro4 RRI Surakarta 089520895244 untuk mengetahui jadwal acara menarik berikutnya.
(Roy Nur Rohim - Penyiar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....