Tak Sekadar Rebutan Gunungan, Ini Makna dan Filosofi Grebeg Mulud Keraton Surakart

  • 19 Agt 2026 23:30 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Grebeg Mulud menjadi salah satu tata cara adat penting di Keraton Surakarta Hadiningrat yang dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang berlangsung setiap tanggal 12 Mulud dalam kalender Jawa ini tidak hanya menghadirkan prosesi keluarnya gunungan, tetapi juga menyimpan nilai keagamaan, filosofi kehidupan, serta pesan moral yang diwariskan lintas generasi.

Dr. Drs. KPH. Raditya Lintang Sasongka, M.Si. menjelaskan, istilah Grebeg berasal dari kata ginarbek yang bermakna diikuti, didukung atau disengkuyung oleh banyak orang. Sementara Mulud merujuk pada bulan Mulud atau Maulud, sehingga Grebeg Mulud menjadi tata cara adat untuk memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Di Keraton Surakarta terdapat tiga grebeg, yakni Grebeg Syawal, Grebeg Besar dan Grebeg Mulud yang menjadi salah satu rangkaian terbesar.

Puncak Grebeg Mulud tahun ini dijadwalkan pada Rabu, 26 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Mulud tahun Jawa 1960. Salah satu inti prosesi adalah keluarnya gunungan atau pareden dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta untuk didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat. Menurut Kanjeng Ria, dahulu gunungan dibagikan secara merata, namun kini lebih sering menjadi objek rayahan atau perebutan oleh masyarakat.

“Dulu setelah didoakan kemudian dibagi secara merata. Tetapi sekarang belum selesai doa sudah dirayah,” ungkapnya. Fenomena tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena jumlah masyarakat yang hadir semakin banyak, sementara jumlah gunungan terbatas, sehingga aksi berebut berpotensi menimbulkan kepadatan, jatuh, terinjak hingga membahayakan keselamatan, terutama bagi masyarakat lanjut usia.

Di balik pembagian gunungan terdapat filosofi Gung Binatur, yang menurut Kanjeng Ria menggambarkan bahwa setiap manusia telah memiliki bagian atau jatah kehidupan masing-masing sesuai ketentuan Tuhan dan usaha yang dilakukan. “Manusia itu sudah ditakdirkan dengan upayanya masing-masing. Dengan upaya yang dilakukan masing-masing, manusia itu sudah mendapatkan jatah,” jelasnya.

Pesan tersebut mengajarkan agar masyarakat tidak menjadikan gunungan sebagai sesuatu yang harus diperoleh dengan cara berebut.

Rangkaian Grebeg Mulud juga tidak dapat dipisahkan dari tradisi Sekaten yang ditandai dengan dibunyikannya gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu mulai tanggal 5 hingga menjelang 12 Mulud.

Menurut Kanjeng Raditya, keberlangsungan Grebeg Mulud di tengah perkembangan zaman menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan finansial, regenerasi abdi dalem dan prajurit, hingga kebutuhan untuk membuat generasi muda semakin memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Di sisi lain, Sekaten dan Grebeg Mulud juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui aktivitas perdagangan makanan, pakaian, mainan, permainan, parkir dan berbagai jasa lainnya, meskipun tetap memiliki konsekuensi sosial seperti kemacetan dan persoalan sampah.

Karena itu, pelestarian Grebeg Mulud membutuhkan sinergi antara keraton, pemerintah, komunitas seni dan masyarakat. Kanjeng Ria mengajak generasi muda tidak hanya mengenal Sekaten melalui media sosial, tetapi datang dan melihat langsung prosesi, gamelan serta Masjid Agung sebagai bagian dari sejarah akulturasi budaya dan agama Jawa. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....