Eksibisi Gamelan Meriahkan Puncak HUT ke-94 PMS

  • 17 Agt 2026 12:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) menutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 dengan menggelar Eksibisi Karawitan bertajuk “Nguri-uri Budaya Jawi” di Gedung Pertemuan PMS Surakarta, Sabtu 15 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi PMS untuk kembali menghidupkan gamelan yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan organisasi sekaligus memperkuat komitmen pelestarian seni dan budaya Jawa di Kota Surakarta.



Eksibisi karawitan tidak hanya menghadirkan pertunjukan gamelan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan budaya. Sejumlah kelompok karawitan dari lima kecamatan di Kota Surakarta, SMA Regina Pacis Surakarta, kelompok gamelan anak-anak SD binaan Dinas Pariwisata Kota Surakarta, serta Gamelan PMS turut tampil dalam kegiatan tersebut.

Pertunjukan semakin semarak dengan kolaborasi Gamelan PMS dengan musik Yang Khim dan Erhu. Seniman karawitan Endah Laras dan penyanyi cilik Cenol juga turut ambil bagian. Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani turut tampil berkolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS dengan menyumbangkan suaranya.

Ketua Umum PMS, Sumartono Hadinoto, mengatakan Eksibisi Karawitan menjadi acara penutup dari rangkaian peringatan HUT ke-94 PMS. Sebelumnya, PMS telah menggelar donor darah pada 11 Juli 2026, seminar scale up mengenai regulasi, izin, kepatuhan dan pajak pada 22 Juli 2026, serta cooking demo pada 25 Juli 2026.

“Hari ini kami merupakan rangkaian terakhir dari acara-acara ulang tahun yang ke-94 PMS, Perkumpulan Masyarakat Surakarta,” ujar Sumartono.

Menurutnya, kegiatan seni budaya tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjalanan PMS. Sejak awal berdiri, PMS telah memiliki berbagai kegiatan seni, antara lain wayang orang panggung amatir, karawitan, gamelan dan musik lainnya.

Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemerintah Kota Surakarta, Iwan Jasmoro, mengatakan pemilihan gamelan sebagai acara penutup HUT ke-94 PMS tidak terlepas dari sejarah gamelan PMS dan kaitannya dengan akulturasi budaya di Kota Solo.

“Eksibisi Gamelan ini merupakan salah satu rangkaian acara ulang tahun PMS yang ke-94. Mengapa ini dipilih sebagai acara penutup karena kebetulan PMS memiliki gamelan dengan riwayat atau history yang panjang terkait dengan akulturasi budaya di kota Solo antara budaya Tionghoa dan budaya Jawa,” kata Iwan.

Iwan menjelaskan, gamelan PMS sempat tidak aktif dalam beberapa waktu. Karena itu, pengurus PMS berupaya mengaktifkannya kembali agar dapat menjadi bagian dari aktivitas seni dan budaya di Kota Surakarta.

.Menurut Iwan, semangat pelestarian budaya juga diharapkan dapat melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas Tionghoa yang selama ini memiliki sejarah akulturasi dengan budaya Jawa di Kota Solo.

“Kami berharap dari saudara-saudara Tionghoa pun juga bisa ikut terlibat untuk ikut aktif nguri-nguri di dalam budaya Jawa ini,” katanya.

Dalam Eksibisi Karawitan, PMS melibatkan kelompok karawitan dari lima kecamatan, yakni Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Laweyan dan Serengan.

Selain itu, kegiatan melibatkan SMA Regina Pacis Surakarta dan kelompok karawitan anak-anak SD yang mendapatkan pembinaan dari Dinas Pariwisata Kota Surakarta.

“Kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa tampil, menampilkan apa yang sudah mereka kerjakan selama ini supaya masyarakat juga mengenal,” jelas Iwan.



Secara keseluruhan, terdapat delapan grup yang tampil dalam eksibisi tersebut. Tiga penyanyi membawakan lagu-lagu Jawa maupun lagu berbahasa Mandarin.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyampaikan apresiasi terhadap PMS yang selama 94 tahun telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Surakarta.

“Pemerintah Kota Surakarta mengucapkan selamat ulang tahun ke-94 kepada PMS. Sembilan puluh empat tahun merupakan perjalanan panjang yang menunjukkan sejarah, keteguhan, dan komitmen PMS untuk terus hadir serta memberikan kontribusi bagi masyarakat Kota Surakarta,” ujar Astrid.

Astrid menilai tema “Nguri-uri Budaya Jawi” sangat relevan dengan semangat pelestarian budaya di Kota Surakarta. Menurutnya, budaya Jawa tidak hanya hadir dalam pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karawitan, lanjut Astrid, juga mengajarkan nilai kebersamaan. Setiap instrumen gamelan memiliki karakter dan fungsi masing-masing, tetapi harus dimainkan secara bersama-sama untuk menciptakan harmoni.

Dalam kegiatan tersebut, Astrid turut tampil berkolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS, bersama seniman karawitan Endah Laras.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam eksibisi. Menurutnya, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada kemampuan untuk memberikan ruang kepada generasi penerus.

“Kita ingin budaya Jawa tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari masa depan,” tutur Astrid.

Astrid menambahkan, melestarikan budaya tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Budaya justru dapat semakin kuat ketika mampu berdialog dengan perubahan dan berinteraksi dengan budaya lain.

( rel/ sf)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....