Menanam Karakter Anak lewat Gerak Tari Tradisional
- 30 Jul 2026 15:29 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SURAKARTA – Tari tradisional tak sekadar mengajarkan rangkaian gerak mengikuti irama. Di balik proses latihan, anak juga belajar mengendalikan emosi, membangun kepercayaan diri, bekerja sama, hingga mengenal nilai-nilai budaya yang diwariskan antargenerasi.
Hal tersebut mengemuka dalam Obrolan Komunitas RRI Surakarta, Jumat, 24 Juli2026, bersama Komunitas Sarwi Retno Budaya Surakarta. Hadir sebagai narasumber Rina Martanti, Ranita Chrisma Devi, dan Tri Lestari Widjajanti.
Rina Martanti mengatakan, kegiatan tari di Sarwi Retno Budaya pada awalnya lebih banyak ditujukan kepada anak-anak. Namun, seiring waktu para orang tua yang mengantar anak latihan juga tertarik untuk ikut bergerak dan belajar menari.
Menurutnya, aktivitas tersebut bukan hanya menjadi sarana menjaga kebugaran dan menyalurkan hobi, tetapi juga turut menjaga keberlangsungan budaya Jawa. “Daripada kita duduk termenung melihat anak bergerak, kenapa kita tidak ikut bergerak. Dengan bergerak itu kita bisa menyalurkan hobi, menyehatkan, juga nguri-uri budaya Jawa,” ujar Rina.
Sementara itu, Ranita Chrisma Devi menjelaskan, tari tradisional memiliki peran dalam membentuk karakter karena penari dituntut tidak hanya menguasai gerakan, tetapi juga mengolah rasa. Setiap tarian memiliki karakter berbeda yang harus mampu diterjemahkan melalui gerak tubuh.
“Untuk tari tradisional itu kita harus mengolah rasa. Setiap gerakan harus ada rasanya, kemudian dibalanskan dengan irama. Di situ kita juga harus menekan emosi, karena ada karakter-karakter yang kita bawakan,” kata Ranita.
Proses tersebut juga diterapkan kepada anak-anak. Ketika membawakan karakter yang gagah, misalnya, anak harus belajar menunjukkan kewibawaan. Sebaliknya, karakter yang lembut membutuhkan gerakan dan pembawaan yang berbeda.
Selain pengendalian emosi, latihan tari dapat menjadi sarana menumbuhkan rasa percaya diri. Rina menilai dukungan orang tua dan pelatih sangat penting, terutama bagi anak yang cenderung pemalu dan takut tampil.
“Orang tua memang harus support, harus sering mengajak anak supaya terlibat. Jangan pernah mencela gerakan anak. Walaupun sebenarnya salah, jangan pernah menghakimi di depan orang lain,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Ranita yang telah mengenal tari sejak sebelum memasuki usia sekolah. Ia mengaku sempat menjadi anak yang pemalu, bahkan enggan mengikuti latihan ketika datang terlambat karena merasa malu dilihat teman-temannya.
Dukungan pelatih dan orang tua kemudian mendorongnya untuk berani tampil dalam pertunjukan wayang bocah. Meski saat itu hanya mendapat peran sebagai kupu-kupu, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam membangun keberaniannya.
“Walaupun cuma jadi figuran, cuma jadi kupu-kupu, tapi benar-benar itu sampai sekarang membawa saya bisa jadi anak yang lebih percaya diri,” tutur Ranita.
Tri Lestari Widjajanti menambahkan, perubahan pada anak juga terlihat ketika mereka mulai mengikuti latihan secara rutin. Anak yang awalnya datang bukan atas kemauan sendiri perlahan dapat menikmati proses hingga merasa kehilangan ketika melewatkan latihan.
“Dalam perjalanannya, akhirnya bolos satu hari itu merasa rugi. Ruginya bukan karena apa, tapi ada keinginan dari anaknya sendiri, jadi sudah mulai mencintai,” kata Tri.
Menurut Tri, pembelajaran tari turut melatih rasa atau feel yang kemudian dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Penari dituntut memahami karakter gerak dan menyesuaikan ekspresi, sehingga proses tersebut sekaligus menjadi latihan dalam mengelola emosi.
Di tengah derasnya budaya luar melalui media sosial, Rina menilai masyarakat tidak perlu khawatir selama kecintaan terhadap budaya sendiri telah ditanamkan sejak dini. Sekolah dan keluarga dinilai memiliki peran besar dalam mengenalkan budaya lokal kepada anak.
“Kita tidak perlu takut bersaing dengan budaya luar. Dengan kita menanamkan karakter sejak dini di sekolah, kita sudah menumbuhkan cinta tanah air itu sendiri,” ujar Rina.
Tri menilai budaya luar juga tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Generasi muda justru dapat memanfaatkan kreativitas mereka untuk memadukan unsur budaya lokal dan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.
“Pengaruh dari luar itu sebenarnya bukan sesuatu yang jelek. Mereka bisa berkreasi, memadukan budaya daerah dengan yang luar. Anak-anak sekarang kreatif sekali,” katanya.
Sarwi Retno Budaya Surakarta sendiri terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar tari, mulai anak usia dini hingga dewasa. Selain latihan rutin, para peserta juga terlibat dalam berbagai pementasan dan kegiatan budaya.
Bagi para anggotanya, komunitas tersebut tidak semata menjadi tempat belajar menari. Rina mengatakan, kebersamaan yang terbentuk juga menjadi ruang untuk memperluas pertemanan, bertukar pengalaman dan saling mendukung.
“Tidak hanya menari, tapi dengan mereka bergabung dengan kita, kita bisa jadi saudara, menyambung silaturahmi. Walaupun berbeda karakter dan sifat, kita tetap satu komunitas, saling mendukung, saling mengisi, saling menguatkan,” kata Rina.
Melalui kegiatan tersebut, Sarwi Retno Budaya berharap semakin banyak anak maupun orang dewasa yang tertarik mengenal tari tradisional. Regenerasi dinilai penting agar seni tari tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang bersama generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....