Wayang Gedhog, Kisah Cinta yang Menyimpan Nilai Persatuan

  • 24 Jul 2026 19:37 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Wayang kulit selama ini lebih dikenal masyarakat melalui kisah Mahabharata dan Ramayana. Padahal, Indonesia juga memiliki Wayang Gedhog, sebuah genre wayang kulit yang mengangkat cerita Panji dengan tema utama roman atau percintaan yang sarat makna kehidupan.

Hal itu disampaikan dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM sekaligus Ketua Harian Pepadi Surakarta, Dr. Rudi Wiratama, S.I.P., M.A., dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Rabu, 15 Juli 2026. Menurutnya, Wayang Gedhog memiliki karakter yang berbeda, baik dari sisi tokoh, iringan gamelan, hingga nilai yang diangkat dalam setiap lakonnya.

Rudi menjelaskan bahwa sebagian besar cerita Wayang Gedhog berpusat pada kisah Panji dan Sekartaji. Berbeda dengan Wayang Purwa yang identik dengan peperangan dan kepahlawanan, Wayang Gedhog lebih banyak mengangkat perjalanan cinta yang bermuara pada persatuan. "Kejayaan seorang pahlawan dalam Wayang Gedhog bukan ketika menghancurkan musuh, tetapi ketika mampu menaklukkan hati musuh," ujarnya.

Menurutnya, tema percintaan dalam Wayang Gedhog justru sangat dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Isu seperti membangun kepercayaan, menyelesaikan konflik dalam hubungan, hingga belajar melangkah menuju masa depan dapat menjadi pintu masuk agar anak muda lebih mudah memahami pesan-pesan budaya yang terkandung di dalamnya.

Meski demikian, popularitas Wayang Gedhog masih berada di bawah Wayang Purwa. Rudi menilai hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari teknik pementasan yang lebih kompleks, tema cerita yang berbeda dengan selera masyarakat pada umumnya, hingga sejarah perkembangannya yang erat dengan lingkungan keraton sehingga ruang pementasannya semakin terbatas.

Untuk menjaga keberlangsungannya, Rudi menekankan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai utama Wayang Gedhog. Ia menilai media digital dapat dimanfaatkan melalui konten singkat di berbagai platform sebagai langkah awal mengenalkan tokoh, cerita, maupun filosofi Wayang Gedhog kepada generasi muda sebelum mereka menyaksikan pertunjukan secara langsung.

Menutup perbincangan, Rudi berharap Wayang Gedhog bukan hanya dikenal sebagai kisah percintaan semata, tetapi juga dikuatkan sebagai warisan budaya yang mengajarkan kerukunan, penghargaan terhadap perbedaan, dan semangat hidup berdampingan. "Sekarang sudah bukan zamannya saling menindas dan menjajah, tetapi zamannya koeksistensi, hidup berdampingan, saling mendukung, tetap kritis, dan memiliki rasa handarbeni kepada bangsa dan negara," katanya. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....