Pohon Besar Bukan Sekadar Alam, tapi Warisan Budaya
- 24 Jul 2026 19:26 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pohon-pohon besar yang selama ini identik dengan kesejukan dan keindahan ternyata juga menyimpan nilai sejarah, budaya, hingga filosofi yang diwariskan lintas generasi. Hal itu mengemuka dalam Obrolan Komunitas RRI Surakarta bersama Asosiasi Tradisi Lisan Solo Raya pada Kamis, 2 Juli 2026, yang mengangkat tema "Pohon Besar sebagai Warisan Budaya".
Guru Besar Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum, menjelaskan bahwa dalam tradisi lisan, pohon tidak hanya dimaknai sebagai objek fisik, tetapi juga sebagai simbol yang mengandung pesan pelestarian lingkungan. "Secara fisik pohon mempunyai manfaat bagi kehidupan, sedangkan secara simbolik berbagai cerita tentang penunggu pohon sebenarnya mengajarkan bahwa kita harus menjaga pohon-pohon besar agar tetap lestari," ujarnya.
Ia mencontohkan keberadaan beringin kembar di alun-alun keraton yang bukan sekadar elemen lanskap, melainkan simbol perlindungan dan kekuasaan. Menurutnya, berbagai mitos yang berkembang di masyarakat pada dasarnya merupakan cara leluhur menanamkan kesadaran agar alam tidak dirusak.
Senada dengan itu, Dr. Nurnaningsih, M.Hum, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET) Bantara Sukoharjo, menilai pohon besar merupakan bagian dari warisan budaya tak benda karena menyimpan berbagai nilai kehidupan. "Pohon besar memiliki nilai sejarah, budaya, spiritual, sosial, pendidikan, hingga ekologi. Dahulu pohon juga menjadi ruang masyarakat untuk bermusyawarah, belajar, dan berinteraksi," katanya.
Menurutnya, anggapan bahwa pohon besar itu keramat sebaiknya dipahami sebagai bentuk pendidikan budaya agar masyarakat terdorong merawat lingkungan, bukan justru merasa takut.
Sementara itu, Dr. Prasetyo Adi Wisnu Wibowo, M.Hum, Kaprodi Sastra Daerah FIB UNS, mengatakan bahwa dalam perspektif tradisi lisan, pohon merupakan pusat ingatan kolektif masyarakat. "Pohon tidak hanya objek alam, tetapi pusat memori kolektif masyarakat. Di sanalah tersimpan sejarah, tradisi, pengetahuan, hingga identitas sebuah komunitas," jelasnya.
Ia menambahkan, banyak nama wilayah di Jawa yang lahir dari nama pohon tertentu, seperti Ringinsari, Randusari, maupun Asem Gede. Karena itu, hilangnya pohon besar juga berarti hilangnya sebagian identitas budaya masyarakat. Dari sudut pandang budaya Jawa dan tradisi keraton, Dr. Mibtadin, M.Phil., Dosen S2 Kajian Budaya sekaligus Tafsir Anom Kasunanan Surakarta, menegaskan bahwa pohon memiliki makna filosofis yang sangat dalam.
"Proses mengangkerkan pohon sebenarnya adalah cara masyarakat Jawa menjaga kelestarian alam. Mitologi itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar pohon tidak ditebang sembarangan," ujarnya.
Ia juga menilai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berakar dari perilaku manusia sendiri. Oleh karena itu, pendekatan budaya dinilai tetap relevan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis di tengah masyarakat.
Pada akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa pelestarian pohon-pohon besar membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat. Selain melalui penelitian dan pendataan, edukasi berbasis budaya juga dinilai penting agar pohon tidak hanya dipandang sebagai aset lingkungan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menyimpan sejarah, identitas, dan nilai-nilai luhur bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....