Alasan Disbudpar Solo Angkat Wayang Orang Sriwedari dan Canting dalam API 2026

  • 05 Jul 2026 22:35 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Dua ikon budaya Kota Solo yakni Wayang Orang Sriwedari dan kerajinan Canting masuk nominasi ajang bergengsi Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata.

Ikon budaya tersebut diajukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo karena memiliki sejarah yang panjang bagi Kota Bengawan. Kepala Disbudpar, Maretha Dinar Cahyono saat ditemui di Balai Kota pada Kamis, 2 Juli 2026 menjelaskan bahwa Wayang Orang Sriwedari menjadi satu-satunya wayang orang yang masih eksis setiap waktu.

"Karena Wayang Orang Sriwedari saat ini menjadi salah satunya yang masih eksis atau pentas setiap hari. Kemudian ini juga menjadi pakem wayang orang. Sekarang penontonnya juga banyak anak-anak muda karena durasi pementasan sudah dipangkas menjadi lebih padat, sekitar dua sampai dua setengah jam saja," kata Maretha Dinar Cahyono.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo juga menyoroti bagaimana eksitensi Wayang Orang Sriwedari yang sudah digandrungi anak-anak muda. Dari data yang dimiliki, setiap hari penonton Wayang Orang bisa mencapai 700 orang.

Sedangkan terkait kerajinan canting sendiri, karena produksi ini sudah mulai terlihat hampir punah. Kepunahan disebabkan maraknya kain batik printing atau cetak yang menghilangkan eksistensi canting sebagai alat tulis manual dalam membatik.

Kota Solo sendiri saat ini hanya tinggal satu yang berada di Joyotakan, Serengan. Cara pembuatan yang rumit dan bahan yang sulit membuat banyak produsen yang sebelumnya harus gulung tikar.

"Canting di Solo ini mungkin tinggal satu-satunya di Jawa Tengah. Kenapa ini kami angkat karena asal mula batik itu kan dari canting, di tengah gempuran batik printing, canting sudah mulai terkikis," katanya menambahkan.

Diharapkan dengan diajukannya dua ikon budaya Kota Solo tersebut, bisa terus menjaga keeksistensian dari Wayang Orang Sriwedari di tengah banyaknya kesenian tradisional serta lebih banyak orang mengetahui bahwa Kota Bengawan masih merawat produksi canting yang sudah mulai punah.

Apalagi saat ini produksi canting tidak hanya diperuntukkan untuk pembuatan batik saja, tapi sudah merambah menjadi hasil craft yang bisa dimiliki semua orang sebagai kerajinan kreatif gantungan kunci, tas hingga pajangan dengan bentuk yang dipadukan barang lainnya secara unik. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....