Sungkeman hingga Punjungan, Wajah Kearifan Lokal dalam Idul Fitri
- 20 Mar 2026 19:33 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Tradisi silaturahmi dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak hanya menjadi ajang saling bermaafan, tetapi juga mencerminkan perpaduan nilai agama dan budaya lokal. Berbagai tradisi seperti sungkeman, anjangsana, hingga punjungan menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan sosial masyarakat.
Menurut antropolog Koentjaraningrat dalam kajian budaya Jawa, sikap hormat kepada orang tua dan yang dituakan telah lama menjadi bagian dari sistem nilai masyarakat. Hal ini tercermin dalam tradisi sungkeman yang dilakukan dengan penuh tata krama sebagai simbol penghormatan dan kerendahan hati.
Tradisi sungkeman sendiri telah dikenal sejak masa kerajaan Jawa, seperti pada era Kerajaan Majapahit, di mana penghormatan kepada raja dilakukan dengan sikap bersimpuh. Seiring waktu, tradisi ini berkembang dan mengalami penyesuaian makna dalam kehidupan masyarakat.
Masuknya Islam ke Jawa melalui peran Wali Songo membawa proses akulturasi budaya. Sungkeman kemudian menjadi bagian dari momentum Idul Fitri sebagai simbol permohonan maaf lahir dan batin, sekaligus mempererat hubungan dalam keluarga.
Selain itu, tradisi anjangsana atau saling berkunjung juga menjadi ciri khas Lebaran. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Sementara itu, kebiasaan mengirim makanan atau punjungan merupakan tradisi yang berakar dari budaya agraris masyarakat Jawa. Kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan bahwa praktik berbagi makanan telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial.
| Baca juga: Sastra Wayang dalam Tradisi Indonesia |
Dalam perkembangannya, tradisi punjungan kemudian berakulturasi dengan perayaan Idul Fitri. Masyarakat saling mengirim hidangan khas seperti ketupat dan opor sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan, sekaligus mempererat hubungan sosial.
Antropolog Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java juga menyoroti kuatnya perpaduan antara ajaran Islam dan tradisi lokal dalam kehidupan masyarakat Jawa. Hal ini terlihat dalam praktik silaturahmi Lebaran yang tidak hanya memperkuat hubungan antarumat Muslim, tetapi juga mencerminkan nilai toleransi antarumat beragama.
Dengan demikian, tradisi sungkeman, anjangsana, dan punjungan menjadi wujud nyata akulturasi budaya dan agama di Indonesia. Nilai-nilai penghormatan, kebersamaan, dan toleransi yang terkandung di dalamnya terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....