Kuatkan Karakter Murid Melalui Pergelaran Wayang Kulit Kolaboratif
- 08 Jul 2026 10:37 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Wayang kulit kolaboratif
- Wayang Kulit Sarana Menguatkan Karakter Cinta Tanah Air
RRI.CO.ID, Surakarta - Guna memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah sekaligus merayakan Gelar Karya Hasil Belajar, SMP Negeri 21 Kota Surakarta menggelar pertunjukan wayang kulit yang unik dan edukatif dengan lakon "Tirta Pawitra Sanjiwani" atau Bima Suci pada Senin (6 Juli 2026). Pergelaran ini menjadi ajang kolaborasi menarik yang melibatkan peran aktif antara guru dan murid.
Uniknya, jika biasanya pertunjukan wayang kulit dimainkan semalam suntuk atau minimal 4 jam dalam format pakeliran padat, pergelaran kali ini sengaja dikemas ringkas dengan durasi hanya 1,5 jam. Langkah inovatif ini diambil agar para siswa yang menyaksikan tidak merasa bosan dan dapat setia mengikuti jalinan cerita dengan antusias hingga akhir acara. Adapun sosok yang bertindak sebagai dalang adalah Ki Warsito Jati, yang sehari-hari merupakan guru ekstrakurikuler karawitan di sekolah tersebut.
Kepala SMPN 21 Surakarta, Wegang Sulanjari, menjelaskan bahwa pemilihan lakon Bima Suci memiliki pesan mendalam bagi para peserta didik. Tokoh Bima digambarkan sebagai sosok yang sangat ulet dalam mencari ilmu, yang salah satunya tercermin dalam kisah pencarian air kehidupan. Nilai keuletan dalam belajar inilah yang ingin disampaikan kepada anak-anak agar menjadi pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan, sejalan dengan konsep pembelajaran deep learning.
" Bima Suci itu lakon yang bisa menjadi teladan bagi anak-anak sangat menarik. " ungkap Wegang.
Kemeriahan acara sudah terasa sejak awal pembukaan, di mana Wegang Sulanjari selaku kepala sekolah bersama sejumlah ibu guru dan tenaga kependidikan tampil memukau menarikan Tari Gambyong. Tari tersebut dibawakan dengan begitu indah dan luwes diiringi musik gamelan yang dimainkan secara langsung oleh murid yang mengikuti ekstra karawitan di sekolah.
Salah satu guru Seni Budaya, Aristawati, mengungkapkan bahwa aksi para guru menari ini merupakan pengejawantahan dari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha yang berarti di depan memberi teladan. Menurutnya, guru tidak hanya mengajak anak-anak mencintai budayanya dengan memberi contoh, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa seni tradisi tidak hanya sekadar sebagai pengetahuan, melainkan juga sebagai keterampilan.
"Kami para guru harus memberi contoh anak-anak, terutama melalui seni tradisi tari dengan praktek langsung." Kata Aristawati .
Lebih lanjut, Wegang menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal dari inovasi sekolah ke depan. SMPN 21 Surakarta berkomitmen menerapkan implementasi pendidikan karakter berbasis budaya Surakarta. Langkah ini menjadi salah satu upaya penguatan karakter siswa melalui revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal, sehingga para murid bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. ( Ita / Wegang )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....