Jiduran, Tradisi setelah Tarawih Sepanjang Ramadan yang Tetap Lestari
- 09 Mar 2026 03:59 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Jiduran merupakan tradisi unik yang kental di masyarakat Kebumen setelah salat tarawih. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan penanda bahwa rangkaian ibadah tarawih di masjid telah usai dilaksanakan.
Kegiatan jiduran adalah memukul beduk dengan irama yang disesuaikan kreativitas para jamaah. Setiap orang yang ikut memukul menciptakan ragam suara dan pola yang berbeda, namun semuanya bermuara pada pesta ritmis malam Ramadan yang hangat.
Menurut salah seorang Pemuka Agama, Abdillah memukul beduk seringkali dijumpai ketika malam takbiran menjelang hari raya Idulfitri. “Kalau di Kebumen, tradisi tabuhan ini sudah berlangsung sejak malam pertama tarawih dimulai sepanjang bulan Ramadan,” katanya.
Suara beduk yang menggema di halaman masjid seperti bahasa bersama yang menyatukan warga. Irama yang tercipta tidak sekadar bunyi, tapi juga simbol kebersamaan dan kegembiraan yang dirasakan jamaah.
Tradisi jiduran melibatkan semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa yang antusias bergantian memukul beduk. Anak-anak terlihat bersemangat menunggu giliran, sementara orang dewasa ikut aktif menjaga ritme permainan bersama.
Suasana jiduran menjadi wadah silaturahmi yang menarik karena percakapan dan tawa turut memperkaya pengalaman keagamaan. Warga saling berinteraksi, mempererat hubungan sosial yang sudah lama terjalin di lingkungan masjid setempat.
Lebih dari sekadar tradisi, jiduran telah menjadi bagian identitas budaya Ramadan di Kebumen yang menunjukkan kreativitas, kebersamaan dan semangat gotong royong. Tradisi ini mengingatkan bahwa ibadah keagamaan juga dapat dipelihara melalui ekspresi seni dan kebersamaan warga. (Nur Aeni /UNS-Magang & Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....