Pola Pikir Jawa di Era Modern, Nilai Luhur Jangan Luntur

  • 19 Feb 2026 11:50 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pola pikir Jawa bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi menjadi fondasi nilai kehidupan yang membentuk karakter masyarakat. Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, nilai-nilai budaya Jawa dinilai tetap relevan sebagai pedoman bersikap dan bermasyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kanjeng Pangeran Buminoyo Soeseno Renggodipuro atau Kanjeng Seno dalam Dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta. Menurutnya, budaya Jawa merupakan “woh pangolahing budi” atau hasil olah budi manusia yang diwujudkan melalui perilaku lahir dan batin. “Budaya Jawa itu lahiriah berbuat baik, batiniahnya memohon kepada Tuhan. Di situlah ada kekuatan prabowo dan wibowo,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pola pikir Jawa terbentuk dari nilai-nilai yang diyakini benar dan baik oleh masyarakat, lalu diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai tersebut meliputi unggah-ungguh, tata krama, andap asor, tepa selira, hingga semangat rukun dan gotong royong. “Orang Jawa itu anti konflik, tidak mengharapkan adanya dredah (konflik). Maka menjaga keselarasan menjadi kunci,” ujarnya.

Menurut Kanjeng Seno, inti budaya Jawa terletak pada konsep manunggaling kawula Gusti, memayu hayuning bawana, dan ngenaki tiasing sasama. Artinya, menjaga hubungan spiritual dengan Tuhan, merawat keselamatan dunia, serta menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial. “Kuncara ruming bangsa dumunung haning luhuring budaya. Keharuman bangsa itu terletak pada keluhuran budayanya,” katanya mengutip ajaran Pakubuwono X.

Ia menambahkan, dalam praktik sehari-hari, falsafah seperti narimo ing pandum sering disalahartikan sebagai pasrah tanpa usaha. Padahal, maknanya adalah menerima hasil setelah berikhtiar maksimal. “Narimo itu bukan tanpa upaya. Sudah budidaya, sudah berusaha, lalu menerima hasilnya dengan lapang,” ujarnya.

Di era digital saat ini, ia mengakui generasi muda cenderung menjauh dari nilai budaya lokal. Namun, menurutnya, penerapan budaya Jawa tetap bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menghargai orang lain, menjaga kerukunan, dan mengedepankan musyawarah.

Melalui pendidikan budaya di sanggar Pasinaon Keraton Surakarta, nilai-nilai tersebut terus diajarkan kepada generasi muda. Kanjeng Seno berharap pola pikir Jawa tidak sekadar menjadi simbol atau seremoni, melainkan benar-benar dihidupi dalam keseharian.

“Sebagai orang Jawa, mari kita laksanakan nilai kearifan itu dalam kehidupan. Budaya menghargai, momong rasa, serta tetap mengakui Tuhan sebagai pencipta kita,” katanya. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....