Budaya Eco Living Tumbuh di Desa Mulur lewat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

  • 26 Jul 2026 23:57 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sukoharjo - Budaya eco living atau gaya hidup ramah lingkungan mulai mengakar di Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dijalankan BUMDes Sugeng Abadi, warga diajak menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Konsep tersebut diwujudkan melalui Bank Sampah Induk (BSI) yang membangun budaya memilah sampah secara bertahap dan berkelanjutan dengan pendekatan Eco Village. Dalam implementasinya, masyarakat tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Penerapan budaya tersebut dimulai dari tingkat rumah tangga. Warga didorong memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyetorkannya ke Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat RT sebelum diteruskan ke Bank Sampah Induk untuk diolah menjadi berbagai produk yang bernilai guna. Sistem ini menjadikan pengelolaan sampah sebagai kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

Direktur Bank Sampah Induk BUMDes Sugeng Abadi Desa Mulur, Adi Prihananto, mengatakan budaya eco living tidak dapat dibangun hanya dengan menyediakan sarana pengelolaan sampah, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

"Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang, tetapi merupakan sumber daya yang dapat dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, konsep Eco Village kami dorong agar budaya eco living benar-benar menjadi kebiasaan masyarakat, bukan sekadar program sesaat," ujar Adi Prihananto.

Pengelolaan sampah di Desa Mulur menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk cair, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui program tabungan sampah, masyarakat juga memperoleh manfaat finansial dari sampah yang mereka kelola.

Adi menambahkan, keberhasilan penerapan budaya eco living tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, BUMDes, Tim Penggerak PKK, akademisi hingga masyarakat. Sinergi tersebut dinilai mampu memperkuat ekonomi sirkular sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Budaya eco living yang berkembang di Desa Mulur menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dan memperkuat pemberdayaan masyarakat. Model yang dikembangkan BUMDes Sugeng Abadi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan melalui perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. (Wiwik)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....