Di Balik Gelap Malam Desa Puro, saat Seragam Loreng dan Sarung Melebur dalam Doa
- 17 Mei 2026 13:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Sayup-sayup suara mesin molen dan deru proyek yang mengepul sejak pagi di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, akhirnya mereda seiring tenggelamnya matahari. Namun, pada Sabtu 16 Mei 2026 malam, kesunyian desa tidak dibiarkan senyap.
Dari sebuah rumah sederhana di Dukuh Terik Kalang, alun lantunan ayat suci Al-Qur’an dan gema sholawat justru mulai membubung tinggi, menghangatkan udara malam yang dingin.
Di dalam rumah itu, sebuah pemandangan kontras namun menyejukkan mata tersaji. Beberapa anggota Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen duduk bersila, berbaur rapat dengan warga setempat. Malam itu, sekat antara seragam loreng tebal dan kain sarung warga desa seolah menguap. Yang tersisa hanyalah kekhusyukan dan rasa kebersamaan yang larut dalam untaian doa.
Bagi TNI, program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) memang identik dengan sasaran fisik: membangun jalan, memperkokoh talud, atau merehabilitasi fasilitas umum. Namun di Desa Puro, TMMD menampakkan wajah aslinya yang lain, yaitu pembangunan ruang batin dan kedekatan hati.
Usai seharian penuh berjibaku dengan terik matahari, debu jalanan, dan beratnya material bangunan, para prajurit ini memilih tidak langsung beristirahat. Mereka melepaskan lelah bukan dengan tidur, melainkan dengan berjalan kaki menuju rumah warga, melebur dalam denyut sosial dan spiritual masyarakat setempat.
Di sela-sela rehat pengajian, tawa renyah dan obrolan santai mengalir tanpa jarak. Kehadiran para prajurit di tengah pengajian ini tidak hanya membawa rasa aman, tetapi juga menyisipkan keharuan yang mendalam bagi warga yang mengalaminya.
Menjadi Bagian dari Keluarga Desa
Ketua RT 18 Dukuh Terik Kalang, Edi Purwanto, tidak dapat menyembunyikan rasa kagum sekaligus harunya malam itu. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana kehadiran Satgas TMMD telah mengubah atmosfer di desanya.
"TMMD kali ini benar-benar berbeda. Bapak-bapak TNI bukan hanya membangun jalan desa, tetapi juga ikut hadir di kehidupan nyata masyarakat. Mereka mengaji bersama, bercengkerama bersama, bahkan sudah kami anggap seperti keluarga sendiri," ucap Edi tulus.
Bagi Edi dan warganya, kehadiran para prajurit ini telah membawa embusan angin baru yang penuh kekeluargaan, membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukanlah sekadar slogan di baliho, melainkan aksi nyata yang tumbuh dari ketulusan.
"TMMD bukan sekadar program pembangunan fisik. Lebih dari itu, ini adalah upaya membangun semangat gotong royong dan menjaga hubungan batin antara TNI dengan rakyat."
Menanggapi hal tersebut, Dansatgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, Letkol Inf Dindin Rohidin, S.I.P., menegaskan bahwa membangun hubungan emosional dengan masyarakat adalah ruh utama dari setiap jengkal program TMMD. Menurutnya, rutinitas mengaji dan berkumpul bersama warga adalah "baterai penambah daya" bagi para prajurit.
Di balik lelah fisik yang mendera setiap hari karena mengejar target pembangunan, ruang religius yang sederhana inilah yang justru menyuntikkan energi baru bagi mereka.
Malam kian larut di Desa Puro, namun kehangatan di Dukuh Terik Kalang enggan menyusut. Kegiatan pengajian malam itu pada akhirnya menjelma menjadi lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Ia telah bertransformasi menjadi ruang kemanusiaan sebuah tempat di mana rasa saling memiliki dan kenangan manis sedang dipahat secara perlahan.
Nantinya, ketika program TMMD ini usai dan para prajurit harus kembali ke barak masing-masing, jalan beton yang mulus mungkin akan terkikis waktu. Namun, jejak kebersamaan di malam itu akan tetap abadi di hati warga.
Sebab pada hakikatnya, pembangunan terbaik bukanlah seberapa panjang jalan yang berhasil membelah desa, melainkan seberapa dalam ketulusan yang mampu menyambungkan hati antarmanusia. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....