YPAC Prof. Dr. Soeharso Surakarta Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas

  • 28 Jun 2026 22:22 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Selama ini sebagian masyarakat mengenal YPAC hanya sebagai tempat terapi bagi penyandang disabilitas. Padahal, YPAC Prof. Dr. Soeharso Surakarta memiliki layanan yang jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, rehabilitasi sosial, rehabilitasi medik hingga pelatihan keterampilan untuk mendukung kemandirian penyandang disabilitas.

Koordinator Kantor YPAC Prof. Dr. Soeharso Surakarta, Aditian Khoirun Nisa, menjelaskan bahwa YPAC merupakan singkatan dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat Prof. Dr. Soeharso Surakarta yang telah berdiri sejak 5 Februari 1953. "YPAC itu singkatan dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat Prof. Dr. Soeharso Surakarta dan berdirinya itu pada tanggal 5 Februari tahun 1953. Sasarannya untuk masyarakat umum, khususnya masyarakat disabilitas, terutama disabilitas fisik," katanya.

Menurut Aditian, YPAC menerapkan konsep total care yang mencakup empat layanan utama. Yakni unit pendidikan melalui SLB YPAC Surakarta, unit rehabilitasi sosial yang dilengkapi asrama, unit rehabilitasi medik berupa fisioterapi, okupasi terapi, dan terapi wicara, serta unit pravokasional yang membekali peserta dengan berbagai keterampilan setelah lulus sekolah.

"Layanan kita itu disebut total care. Yang pertama unit pendidikan, kemudian unit rehabilitasi sosial, unit rehabilitasi medik yang meliputi fisioterapi, okupasi terapi dan terapi wicara, kemudian yang terakhir ada pravokasional atau keterampilan," ucapnya.

Di asrama, para peserta didik menjalani aktivitas harian secara terjadwal mulai dari ibadah, sekolah, makan bersama, istirahat, belajar hingga pembinaan karakter. Selain itu, YPAC juga menerima mahasiswa praktik dari berbagai perguruan tinggi untuk mendampingi anak-anak selama menjalani aktivitas.

Untuk bergabung di YPAC, calon peserta akan menjalani asesmen terlebih dahulu agar layanan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing anak. "Kalau mau gabung di asrama harus asesmen dulu dari dokter untuk menentukan kemandiriannya. Kalau di sekolah bisa langsung mendaftar dan bertanya langsung di sekolah," katanya.

Tidak hanya memberikan layanan pendidikan dan terapi, YPAC juga mengembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan seni dan keterampilan. Salah satunya adalah perkusi musik yang menjadi ekstrakurikuler unggulan, serta pelatihan membuat kerajinan manik-manik yang sekaligus melatih motorik halus dan kemampuan bersosialisasi.

"Yang menonjol itu perkusi musik. Kalau keterampilan biasanya membuat manik-manik seperti gantungan kunci atau tempat tisu. Selain melatih jari-jari supaya tidak kaku, anak-anak juga senang karena bisa bersosialisasi dengan teman-temannya," ucap Aditian.

Hasil karya para peserta didik tersebut juga dipasarkan kepada masyarakat, baik melalui kegiatan pameran, car free day, maupun pesanan suvenir. "Produknya masih dijual. Kalau di sekolah juga ada batik yang hasilnya dijual kepada masyarakat," ujarnya.

Meski memiliki beragam layanan, YPAC masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan operasional. Aditian mengatakan, sebagai yayasan swasta, keterbatasan anggaran menjadi kendala terbesar.

"Kalau yang paling terbesar itu di masalah anggaran. Karena YPAC adalah swasta penuh. Meskipun pemerintah juga memperhatikan, tetapi kebutuhan operasional kami masih cukup besar," ujarnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi kepedulian masyarakat yang terus meningkat melalui berbagai bentuk donasi, kegiatan sosial, maupun kolaborasi dengan komunitas dan perguruan tinggi. Bagi keluarga penyandang disabilitas yang mengalami keterbatasan ekonomi, YPAC juga menyediakan skema keringanan biaya dengan syarat melampirkan surat keterangan tidak mampu.

"Kalau memang benar-benar tidak mampu dan ada surat keterangan tidak mampu dari RT, RW, dan kelurahan, nanti bisa mendapatkan keringanan. Di asrama juga seperti itu, akan dilihat kondisi keluarganya," katanya.

Selain layanan pendidikan dan rehabilitasi, YPAC juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, serta masyarakat yang ingin menjadi relawan. "Kalau menjadi relawan di YPAC, yang paling utama adalah harus berjiwa sosial. Karena relawan memang membantu secara sukarela," ujarnya.

Menutup perbincangan, Aditian mengajak masyarakat untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif dengan memberikan kesempatan dan perhatian kepada penyandang disabilitas, bukan sekadar rasa kasihan. "Penyandang disabilitas itu tidak perlu dikasihani, tetapi perlu pengertian. Kalau melihat penyandang disabilitas di jalan atau angkutan umum, berikan perhatian dan kesempatan. Jadi tidak perlu dikasihani, tapi perlu perhatian dan pengertian," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....