UNS Kembangkan Pusat Studi Herbal, Tekan Impor Obat Nasional

  • 11 Mar 2026 21:39 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas RI, Prof. Rachmat Pambudy, meresmikan Pusat Studi Tropical Herbal Medicine dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rabu, 11 Maret 2026. Kehadiran pusat studi ini diproyeksikan menjadi motor penggerak hilirisasi tanaman obat asli Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Tetapi juga memperkuat kemandirian kesehatan nasional melalui produk pengobatan alami yang lebih ramah lingkungan.

Menteri PPN, Prof. Rachmat Pambudy, menyatakanbahwa Indonesia dikaruniai lebih dari 2.800 spesies tanaman obat yang berpotensi besar untuk dikembangkan secara medis. Melalui pusat studi ini, UNS didorong untuk memproduksi ekstrak bahan inti yang murni sehingga mampu menciptakan standar baru dalam industri farmasi global.

Selain dukungan riset, kementerian terkait juga memberikan bantuan peralatan laboratorium mutakhir. Bantuan ini guna membangun sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengolah kekayaan biodiversitas tersebut.

"Kita ingin UNS bukan hanya menjadi pusat herbal nasional, tetapi pelan-pelan membangun kekuatan di kawasan regional hingga internasional sebagai bagian dari pengembangan pengobatan dunia yang lebih alami," ujar Prof. Rachmat Pambudy saat ditemui di UNS, Rabu, 11 Maret 2026.

Rektor UNS, Prof. Hartono, menyambut positif peresmian tersebut sebagai solusi atas tingginya angka impor bahan obat konvensional yang mencapai 90 persen. Saat ini, belanja obat tahunan di Indonesia mencapai angka 394 triliun rupiah.

Menurutnya, ini sebuah beban ekonomi yang seharusnya bisa ditekan jika potensi 9.600 tanaman obat lokal dimanfaatkan secara optimal. UNS berkomitmen mengambil peran strategis melalui riset mendalam agar tanaman herbal lokal naik kelas menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang diakui secara klinis.

Sebagai langkah awal, pihak universitas berencana membangun gedung riset khusus serta mengoptimalkan Rumah Sakit UNS sebagai lokasi uji klinis bagi produk-produk herbal yang dikembangkan. Fokus pada lingkungan hidup ini juga selaras dengan pemberian penghargaan UNS Award 2026 kepada Prof. Emil Salim, sebagai bentuk motivasi bagi sivitas akademika untuk terus memperhatikan kelestarian alam.

" Pengembangan herbal medicine dipandang sebagai cara paling elegan untuk mengangkat manfaat ekonomi sekaligus kesehatan bagi masyarakat luas," kata Prof Hartono

Dukungan juga mengalir dari berbagai kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang fokus pada pengembangan kapasitas SDM peneliti. Sinergi ini nantinya akan melibatkan Badan POM yang progresif guna memastikan produk herbal Indonesia memenuhi standar keamanan internasional.

Melalui model pengembangan obat baru ini, Indonesia berpeluang menjadi pemimpin dalam penggabungan metode pengobatan timur dan barat yang lebih berkelanjutan bagi ekosistem global.

"Indonesia punya potensi terpendam sembilan ribu enam ratus tanaman obat, dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengangkat potensi itu agar memberikan manfaat nyata bagi ekonomi dan kesehatan bangsa," kata Prof. Hartono. (Dania)

Rekomendasi Berita