Prof Mahfud Dukung OTT KPK, Singgung Kebocoran Anggaran 30 Persen

  • 11 Apr 2026 23:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Mantan Menko Polhukam Profesor Mahfud MD mendukung Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. Prof Mahfud juga menyinggung kebocoran anggaran pemerintah mencapai 30 persen.

Penegasan tersebut disampaikan Prof Mahfud MD saat menghadiri kegiatan di Pondok Pesantren Walisongo, Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen, Sabtu 11 April siang.

Mahfud meyakini bahwa KPK telah mengantongi bukti yang sangat kuat sebelum melakukan tindakan senyap tersebut. Menurutnya, rekam jejak KPK dalam melakukan OTT hampir tidak pernah meleset hingga ke meja hijau.

"KPK itu ketika melakukan langkah seperti itu pasti sudah punya bukti yang cukup. Kita tunggu saja pengumuman resminya. Tapi menurut saya, memang harus ada lembaga yang tegas seperti KPK," ujar Mahfud.

Menanggapi keluhan daerah mengenai sulitnya anggaran akibat pemotongan di berbagai sektor, Mahfud meminta para pejabat daerah tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan mencari "celah" untuk korupsi baru. Dia justru melihat kebijakan pemotongan anggaran oleh pemerintah pusat sebagai strategi taktis untuk memutus rantai praktik lancung di daerah maupun pusat.

"Pak Prabowo kan sudah melakukan pemotongan anggaran. Saya kira itu strateginya potong anggaran agar tidak bisa dikorupsi. Meskipun banyak yang protes tidak bisa berjalan, tapi kalau selama puluhan tahun bocornya 30 persen, ya lebih baik dipotong saja. Termasuk anggaran di tingkat kabupaten dan kota," kata Mahfud.

Dalam kesempatan tersebut, Mahfud juga menyinggung persoalan klasik yang menghantui birokrasi Indonesia, yakni kebocoran anggaran. Ia merujuk pada pernyataan ekonom legendaris Sumitro Djojohadikusumo yang menyebut kebocoran APBN mencapai 30 persen sejak tahun 1978.

Bahkan, ia mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan dari diskusinya bersama Presiden terpilih, Prabowo Subianto kebocoran anggaran ratusan persen.

"Waktu saya Menko ketemu Pak Prabowo, katanya kebocoran itu bisa sampai ratusan persen. Sesuatu yang harganya 30 juta bisa di- mark up menjadi 150 juta. Ini masalah serius yang harus ditekan melalui langkah hukum seperti yang dilakukan KPK," ujar dia.

Sebagai informasi Prof Mahfud MD menjadi pembicara dalam acara Naharul Ijtima halalbihalal di Pondok Pesantren Walisongo Kabupaten Sragen.

Dalam kesempatan tersebut Prof Mahfud menegaskan bahwa jati diri Nahdlatul Ulama (NU) harus kembali pada akar rumputnya, yaitu pesantren. Mantan Calon Wakil Presiden itu mengingatkan agar pesantren tetap menjadi basis pergerakan utama dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....