Gemilang Desa, Sinergi Mahasiswa-Warga Demi Kemandirian Desa

  • 17 Okt 2025 14:13 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Desa memiliki peran fundamental sebagai penjaga kearifan lokal dan penjamin ketahanan pangan, meski kini dihadapkan pada berbagai tantangan modern. Atas dasar kesadaran tersebut, Departemen Pengembangan Masyarakat Desa BEM KM UGM menyelenggarakan Gemilang Desa.

Gemilang Desa merupakan sebuah program kerja yang bertujuan memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan desa.

Program ini dibagi menjadi dua rangkaian, yaitu Gebyar Desa dan Kongres Abdi Desa, yang secara sinergis mempertemukan ide-ide inovatif dengan implementasi praktis di lapangan.

Pada sub-event Gebyar Desa, sebanyak 59 mahasiswa dari berbagai fakultas Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam panitia Gemilang Desa terjun langsung ke tengah masyarakat Desa Donoharjo.

Mereka menghadirkan sejumlah kegiatan interaktif, antara lain GEMAJAR (Gemilang Desa Mengajar), General Medical Check Up (GMCU), Sosialisasi Tanaman OBAT bersama narasumber Dr. Joko Santosa, S.Si., M.Si., Permainan Keping Cerita Donoharjo, serta program Sehat Bersama Warga.

Selain itu, mahasiswa juga ikut mendukung kemeriahan Festival Healing Tourism. Rangkaian kegiatan ini mendapat antusiasme dari warga, lebih dari 50 orang dewasa dan 30 anak-anak Desa Donoharjo tercatat aktif berpartisipasi.

Zaki, selaku warga Desa Donoharjo yang berpartisipasi dalam Sosialisasi Tanaman OBAT berharap kegiatan seperti Gebyar Desa dapat lebih banyak digelar agar masyarakat mendapat pengetahuan dan wawasan baru.

Menurutnya, kegiatan semacam ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk mentransfer ilmunya kepada masyarakat. Tak berbeda dengan Zaki, Sumaryono yang berpartisipasi dalam kegiatan GMCU juga berharap kegiatan seperti Gebyar Desa lebih sering dilakukan.

“Saya terima kasih sekali atas keberadaan fasilitas cek kesehatan ini. Ini sangat membantu bagi warga sini yang notabenenya petani,” kata Sumaryono.

Di sisi lain, Kongres Abdi Desa berfokus pada diskusi dan kompetisi ide. Ajang ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari universitas dan SMA dalam tiga kategori lomba: Business Plan, Esai, dan Poster.

Sepuluh tim terbaik dari masing-masing kategori berhasil lolos ke babak final pada 27 September. Rangkaian kongres diakhiri dengan Talkshow Edukatif SEDASA (Suara Pemuda untuk Kemajuan Desa).

Talkshow menghadirkan narasumber Joko Susilo, Founder Gunungkidul Menginspirasi sebagai representasi aktivis, kemudian Prof. Irfan Dwidya Prijambada, Ph.D., Guru Besar Fakultas Pertanian sebagai representasi akademisi.

Selain itu Kanjeng Yudanegara, Kepada Dinas Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sebagai representasi pemangku kebijakan, dan Antonia Elena, Duta Lingkungan Provinsi DIY.

"Melalui tema ini (Lentera dari Desa, Merajut Asa Untuk Indonesia) kita mengusung perubahan besar untuk negeri ini tidak selalu dimulai dari pusat kota, melainkan bisa berawal dari desa-desa yang menjadi pondasi bangsa. Lentera dari desa inilah yang akan memandu langkah kita dalam merajut asa, menguatkan persatuan, dan membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan berdaya saing,” kata Faris Zakiy, Koordinator Umum Gemilang Desa.

Zaki, selaku warga Desa Donoharjo yang berpartisipasi dalam Sosialisasi Tanaman OBAT berharap kegiatan seperti Gebyar Desa dapat lebih banyak digelar agar masyarakat mendapat pengetahuan dan wawasan baru (Foto: BEM KM UGM)

Gemilang Desa secara tegas menunjukkan bahwa upaya pengembangan desa harus dilakukan dengan mengubah perspektif. Mahasiswa tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga visi untuk menjadikan desa sebagai titik awal kemajuan bangsa yang berdaya.

Semangat yang diusung dalam kegiatan ini menegaskan bahwa kemajuan nasional tidak akan terwujud tanpa kemandirian desa. Oleh karena itu, kolaborasi harmonis antara mahasiswa dan masyarakat desa ini merupakan model nyata bagi pengembangan yang berkelanjutan dan merata. (BEM KM UGM)

Rekomendasi Berita