Sebanyak 400 Nelayan dan Perempuan Pesisir Meriahkan Mandangin Bergema

  • 15 Agt 2026 23:57 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Sebanyak 400 nelayan dan perempuan pesisir tampil dalam Drama Musikal Bangsacara-Ragapatmi “Mandangin Bergema”.
  • Festival Pesisir #5 menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat Pulau Mandangin.
  • SKK Migas-HCML menghadirkan program pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan pelayanan administrasi bagi warga.

RRI.CO.ID, Sampang - Sebanyak 400 nelayan dan perempuan pesisir tampil dalam pagelaran budaya Festival Pesisir #5 di Pulau Mandangin. Mereka membawakan Drama Musikal Bangsacara-Ragapatmi bertajuk “Mandangin Bergema” sebagai puncak Festival Pesisir #5 SKK Migas-HCML, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Bupati Sampang Slamet Junaidi mengapresiasi keterlibatan warga dalam pertunjukan kolosal yang mengangkat sejarah Pulau Mandangin tersebut. “Saya tidak tahu seperti apa konsepnya. Tahu-tahu barusan melihat, luar biasa,” kata Slamet.

Ia mengaku terkesan melihat 400 warga mampu tampil dan mengendalikan pertunjukan kolosal dengan membawa kisah sejarah Pulau Mandangin. “400 orang (yang tampil), bisa mengendalikan 400 orang ini susahnya luar biasa. Tapi ini bisa membawa sejarah Pulau Mandangin,” ujarnya.

Pertunjukan tersebut dipersiapkan selama sekitar tiga bulan. Para nelayan dan perempuan pesisir berlatih gerak serta memantapkan dialog di sela waktu istirahat setelah melaut.

Mereka kemudian tampil di atas panggung berukuran 20 meter x 4 meter dengan mengangkat spirit legenda Bangsacara-Ragapatmi sebagai bagian dari upaya menghidupkan budaya pesisir. Manager Regional Office and Relation HCML, Hamim Tohari, mengatakan Festival Pesisir #5 merupakan kelanjutan program tahunan SKK Migas-HCML bersama pemerintah kabupaten tuan rumah.

“Festival Pesisir yang kelima ini mengambil tema Mandangin Bergema, karena kita ingin apa yang sudah kita lakukan itu bisa terus berlanjutan,” kata Hamim.

Menurut Hamim, seluruh talent dalam pertunjukan berasal dari masyarakat Pulau Mandangin. Mereka terlibat sebagai penari, pemeran drama, hingga aktor.

“Mereka menggali cerita-cerita atau hikayat-hikayat yang tersembunyi di Pulau Mandangin ini dan dituangkan dalam sebuah aksi seni,” ujarnya.

Ribuan warga memadati area Festival Pesisir #5 “Mandangin Bergema” di Pulau Mandangin, Sampang, saat menyaksikan pagelaran budaya pada malam puncak festival (Foto: RRI/ Ermina Jaen)

Hamim mengatakan persiapan festival tidak hanya berfokus pada pertunjukan. HCML juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan tata kelola kelembagaan. “Program-program kita fokus kepada program yang mengenerate income, bagaimana kita masuk kepada satu program yang bisa meningkatkan pendapatan dan kemandirian masyarakat lokal,” katanya.

Festival Pesisir merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat atau PPM. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengangkat potensi budaya dan maritim masyarakat pesisir.

Festival Pesisir pertama digelar di Pulau Mandangin pada awal 2023 dengan tema “Bersih Pantaiku, Indah Lautku”. Festival kedua berlangsung di Pulau Gili Iyang pada akhir 2023 dengan mengangkat tradisi Andrenat.

Pada 2024, Festival Pesisir #3 digelar di Pantai Matahari, Desa Lobuk, dengan tema Taraju. Setahun berikutnya, Festival Pesisir #4 berlangsung di Pulau Giligenting dengan tema Lengghi.

Kini Festival Pesisir kembali ke Pulau Mandangin melalui tema “Mandangin Bergema”. Pulau seluas 165 hektare itu terbagi dalam tiga dusun, yakni Barat, Kramat, dan Candin.

Selain pagelaran budaya, Festival Pesisir #5 menghadirkan sejumlah program pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 25 siswa berprestasi dan 25 siswa kurang mampu menerima bantuan melalui program “Langkah Baik HCML”. Program tersebut menyasar siswa dari sembilan SD, tiga MI, tiga MTs, dan satu SMP di Pulau Mandangin.

Sementara program “HCML untuk Masa Depan” diberikan kepada 50 balita dan khitanan massal menyasar 100 anak. Warga juga memperoleh pelayanan administrasi kependudukan berupa pembuatan KTP dan KK. Bazar turut melibatkan 15 UMKM binaan HCML serta pedagang kecil Pulau Mandangin.

Melalui “Mandangin Bergema”, panggung budaya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga sejarah dan tradisi. Dari nelayan hingga perempuan pesisir, mereka membuktikan budaya dapat terus hidup melalui generasi yang menjaganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....