Ngobras Pro1 Kupas Jejak Trem Legendaris Surabaya
- 28 Mei 2026 19:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Program Ngobras Pro1 kembali menghadirkan perbincangan sejarah yang menarik bersama narasumber dari Komunitas Begandring Soerabaia, Nevy Eka Pattiruhu. Dalam program yang dipandu oleh Joe Adi Yuanda tersebut, Rabu 27 Mei 2026, pendengar diajak menelusuri sejarah trem yang pernah menjadi transportasi andalan Kota Surabaya pada masa lalu.
Dalam dialog santai namun penuh wawasan itu, Nevy menjelaskan bahwa trem listrik di Surabaya resmi dibuka pada tahun 1923. Namun, jauh sebelum peresmian tersebut, halte Aneta Boulevard di kawasan Darmo sudah lebih dahulu dioperasikan oleh Oost-Java Stoomtram Maatschappij atau OJS sejak 1 Juli 1922.
“Trem listrik resmi dibuka tahun 1923, tetapi halte Aneta Boulevard sebenarnya sudah digunakan OJS sejak 1 Juli 1922,” ujar Nevy saat siaran berlangsung. Ia menambahkan bahwa kawasan tersebut dahulu menjadi salah satu titik penting aktivitas transportasi masyarakat Surabaya.
Nevy juga mengungkapkan bahwa bentuk halte trem di Surabaya tidak semuanya dibangun secara permanen. Beberapa halte seperti di kawasan Jalan Tunjungan dan Alun-alun Contong bahkan hanya menggunakan konstruksi kayu sederhana menyerupai pondok kecil karena keterbatasan lahan yang tersedia saat itu.
“Tidak semua halte berbentuk bangunan permanen. Ada yang hanya terbuat dari kayu seperti pondok kecil karena kondisi lahannya terbatas,” jelasnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana sistem transportasi kala itu tetap berusaha menyesuaikan dengan perkembangan kota.
Dalam pembahasannya, Nevy turut menggambarkan suasana halte trem listrik “Aneta Boulevard” yang kini lokasinya berada di sekitar lampu merah dekat gedung Wismilak. Kawasan tersebut dahulu menjadi titik sibuk naik turun penumpang trem listrik jalur utama Surabaya.
Sementara itu, trem listrik lijn 1 jurusan Wonokromo menuju Willemsplein atau yang kini dikenal sebagai kawasan Jembatan Merah Plaza disebut sebagai jalur paling ramai pada masanya. “Jalur Wonokromo–Willemsplein adalah jalur tersibuk sehingga satu rangkaian sering terdiri dari tiga gerbong penumpang,” kata Nevy.
Ia juga menjelaskan bahwa gerbong paling belakang biasanya digunakan khusus untuk para pedagang pribumi yang membawa barang dagangan dengan pikulan. “Gerbong terbuka di bagian belakang itu disebut Marktwagens atau Kereta Pasar. Biasanya dipakai pedagang untuk membawa barang dagangan mereka,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....