Dosen Ubaya Rekomendasikan Strategi Jaga Pariwisata di tengah Perang Israel-Iran
- 15 Mar 2026 19:55 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Perang yang bergejolak antara Israel dan Iran berdampak terhadap banyak aspek secara global. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang mengalami kemerosotan akibat munculnya berbagai risiko.
Dosen Prodi Manajemen Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. Prita Ayu Kusumawardhany, Minggu 15 Maret 2026 menyebut, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Khususnya bagi pelaku usaha dan pemerintah untuk mempertahankan pengunjung pariwisata lokal.
Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) ini mengatakan, pemerintah dapat mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil. Yakni melalui kampanye digital untuk membangun kepercayaan wisatawan.
Selain itu, fokus pada pasar jarak dekat (short-haul traveler). Berikutnya, memperkuat kerja sama dengan maskapai internasional menjadi solusi yang layak dipertimbangkan.
“Koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga harus dilakukan. Memberikan dukungan bagi agen perjalanan domestik, misalnya dengan subsidi tiket perjalanan dalam negeri juga dapat menarik para wisatawan untuk melakukan perjalanan,” jelasnya.
Untuk memastikan para pelancong merasa aman, Prita turut merekomendasikan penggunaan metode monitor berbasis teknologi (technology-based monitoring). Metode ini dapat diterapkan di titik-titik destinasi wisata yang ramai, seperti Bromo.
Terhadap para pelaku usaha pariwisata, Prita mengusulkan untuk menerapkan strategi dual market. Dengan tetap memantau dan menjaga kondisi pariwisata internasional sembari menguatkan wisata domestik dan regional Asia sebesar 60 persen - 70 persen, untuk menjaga kestabilan arus kas.
“Selain itu, terus jaga aktualitas informasi dari media dan pantau pembaruan informasi dari maskapai penerbangan dan International Air Transport Association (IATA). Hal ini diperlukan untuk mengevaluasi risiko dan keamanan penerbangan,” beber Prita.
Prita menyebut, perang dapat berdampak terhadap kestabilan pariwisata. Indonesia turut menghadapi risiko penurunan wisatawan yang secara konkret memengaruhi kondisi finansial nasional.
“Meskipun tergolong aman secara geografis, lonjakan biaya perjalanan dan rute yang menjadi lebih panjang harus disiasati dengan bijaksana,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....