UHT Teliti Tata Kelola Ekowisata Berbasis Masyarakat Karimunjawa

  • 08 Sep 2025 02:18 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Tim peneliti Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya telah melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Karimunjawa. Penelitian tentang “Model Tata Kelola Kolaboratif Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Karimunjawa: Menuju Ekonomi Biru Berkelanjutan” itu mendapatkan pendanaan melalui hibah penelitian dan pengabdian masyarakat DPPM UHT tahun anggaran 2025.

Tim peneliti tersebut yaitu Dr. M. Husni Tamrin, Dr. Deasy Arieffiani, Dr. Arif Winarno, serta mahasiswa Magister Administrasi Publik, FISIP, UHT, Faizal Amin dan Riza Nur Madaniyah. Misi utama penelitian mereka yakni menyusun model tata kelola ekowisata yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, menjaga keseimbangan ekologi, dan memperkuat kapasitas warga dalam menghadapi arus pariwisata.

Selama penelusuran, tim menemukan banyak nelayan beralih profesi menjadi penyedia jasa wisata. Nelayan paruh baya, Surya, mengaku lebih banyak menyewakan kapalnya untuk wisatawan.

“Kalau cuaca buruk, saya tidak bisa melaut. Tapi sekarang ada kapal wisata, setidaknya penghasilan tetap ada,” ucapnya. Sementara itu, pedagang makanan di Pantai Ujung Gelam, Sulastri, bertahan hidup dengan modal swadaya tanpa dukungan komunitas maupun bantuan pemerintah.

Berbeda dengan Pantai Ujung Gelam, Pantai Bobby justru berkembang berkat inisiatif warga lokal. Meski menghadapi tantangan keterbatasan dukungan, destinasi ini berhasil menarik wisatawan dengan konsep kreatif berbasis masyarakat.

Dari penelusuran itu, hasil penelitian tim UHT menawarkan kerangka tata kelola kolaboratif ekowisata berkelanjutan (Sustainable Collaborative Ecotourism Governance/SCEG) yang terdiri dari tiga pilar utama. Yang pertama tata kelola kolaboratif (Collaborative Governance) dengan menghadirkan peran pemerintah, swasta, dan masyarakat secara seimbang dalam pengelolaan wisata.

Kedua yaitu ekonomi biru (Blue Economy) dengan memastikan pemanfaatan sumber daya laut memberi nilai tambah ekonomi tanpa merusak daya dukung ekosistem. Berikutnya pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT) dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama sekaligus penerima manfaat pariwisata.

Dengan model ini, ekowisata di Karimunjawa diharapkan bisa berjalan inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Menurut Ketua Tim Peneliti, Dr. M. Husni Tamrin, hasil riset ini penting sebagai pijakan kebijakan.

“Karimunjawa adalah etalase masa depan pariwisata bahari Indonesia. Melalui model tata kelola kolaboratif, kita ingin memastikan pariwisata tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal, tetapi juga menjaga kelestarian ekologi serta memperkuat kemandirian masyarakat,” katanya. Sementara itu, Dr. Deasy Arieffiani menilai wisata tidak hanya tentang keindahan, tapi tentang keberlanjutan.

"Masyarakat harus menjadi subjek, bukan sekadar objek,” ujarnya. Senada, Dr. Arif Winarno mengatakan kuncinya ada pada disiplin data dan komitmen bersama.

"Dengan indikator terukur, kita bisa menyeimbangkan pertumbuhan wisata dan kesehatan ekosistem," ucapnya. Melalui penelitian ini, UHT menegaskan perannya dalam memperkuat ekonomi biru, memberdayakan masyarakat pesisir, serta menjaga warisan alam Karimunjawa agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....